TOPMEDIA – PSIS Semarang mengambil keputusan dengan memecat Jafri Sastra. Keputusan itu akhirnya diambil. Manajemen mengakhiri kerja sama dengan pelatih kepala Jafri Sastra tepat setelah rampungnya putaran kedua Pegadaian Championship 2025/2026.
Keputusan ini sebenarnya tidak sepenuhnya mengejutkan, menjadi pertanyaan apakah ini langkah strategis atau sekadar meredam tekanan.
Reza Handika selaku Asisten manajer PSIS, menyebut pemutusan kontrak tersebut sebagai hasil evaluasi menyeluruh. Tujuannya jelas, memperbaiki performa Mahesa Jenar pada putaran ketiga fase krusial yang akan menentukan hidup-mati PSIS di kasta kedua sepak bola tanah air.
“Manajemen PSIS Semarang dan Coach Jafri Sastra mengakhiri kontrak kerja sama sebagai pelatih kepala karena evaluasi yang dilakukan guna memperbaiki performa PSIS pada putaran berikutnya,” ujar Reza, Sabtu (31/1/2026).
Evaluasi ini tidak serta merta lahir begitu saja. Dasar posisi di klasemen hingga putaran kedua, Mahesa Jenar masih berada di zona degradasi.
Mereka berada di peringkat ke-9 Grup Timur dengan 11 poin dari 18 laga terpaut tiga angka dari Persiba Balikpapan yang menempati batas aman.
Maka kemudian, di titik ini, manajemen memilih jalan paling lazim dalam sepak bola Indonesia: mengganti pelatih.
Merujuk pada capaian Jafri Sastra sejatinya tak sepenuhnya gelap. Dari tujuh pertandingan yang ia pimpin, pelatih berusia 60 tahun itu mempersembahkan tiga kemenangan.
Ini sebuah pencapaian yang justru tak pernah diraih PSIS di bawah pelatih sebelumnya. (*)



















