TOPMEDIA – Takhta Suci Vatikan akhirnya kehilangan kesabaran. Di tengah dentuman rudal yang kian memekakkan telinga di Timur Tengah, pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Leo XIV, melontarkan kecaman keras terhadap eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Dalam suasana khidmat doa Angelus di Lapangan Santo Petrus pada Minggu (22/3), suara Paus terdengar lebih bergetar sekaligus tegas. Ia tak lagi menggunakan diksi diplomatik yang halus, melainkan langsung menghujam jantung persoalan. Paus menyebut konflik bersenjata yang kini memasuki pekan keempat itu sebagai sebuah “skandal”.
“Perang ini adalah skandal bagi seluruh keluarga umat manusia. Apa yang menyakiti para korban tak berdaya di sana, menyakiti seluruh kemanusiaan,” tegas Paus Leo XIV sebagaimana dilansir dari The Independent.
Biasanya, Vatikan dikenal dengan gaya diplomasi “pintu belakang” yang tenang dan penuh bahasa kiasan. Namun, situasi di Timur Tengah tampaknya sudah mencapai titik nadir yang memaksa Takhta Suci keluar dari zona nyamannya.
Paus mengaku mengikuti perkembangan di medan tempur dengan rasa “cemas dan ngeri”. Ia menyoroti penderitaan warga sipil yang terus menjadi tumbal atas ego politik negara-negara besar. Pernyataan ini dinilai para pengamat internasional sebagai salah satu sikap paling berani dan frontal yang pernah diambil oleh Vatikan dalam satu dekade terakhir.
Ketegasan Vatikan tidak berhenti di level pemimpin tertinggi. Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, juga melancarkan serangan diplomatik yang tak kalah pedas.
Secara eksplisit, orang nomor dua di hierarki Vatikan ini meminta Presiden AS Donald Trump untuk segera menginjak rem darurat dan mengakhiri serangan terhadap Iran. Tak hanya itu, Parolin juga memberikan peringatan keras kepada Israel agar menghentikan operasi militer di wilayah Lebanon.
“Saran saya jelas: akhiri sesegera mungkin. Dan satu hal lagi, jangan ganggu Lebanon!” ujar Parolin dengan nada tinggi pada Rabu (18/3) lalu.
Langkah “frontal” Vatikan ini mencerminkan betapa kritisnya situasi di lapangan. Dengan keterlibatan langsung kekuatan besar seperti AS dan Iran, risiko terjadinya Perang Dunia III bukan lagi sekadar isapan jempol.
Vatikan kini berdiri di barisan terdepan mendesak komunitas global agar tidak hanya menjadi penonton bisu. Bagi Paus Leo XIV, diamnya dunia saat ini adalah bentuk pembiaran terhadap luka kemanusiaan yang akan sulit disembuhkan.
Kini, bola panas berada di tangan Washington dan Tel Aviv. Akankah suara moral dari Lapangan Santo Petrus mampu meredam ambisi militer mereka, ataukah seruan damai ini hanya akan menguap di antara debu dan mesiu Timur Tengah? Kita tunggu langkah selanjutnya.
Secara eksplisit, orang nomor dua di hierarki Vatikan ini meminta Presiden AS Donald Trump untuk segera menginjak rem darurat dan mengakhiri serangan terhadap Iran. Tak hanya itu, Parolin juga memberikan peringatan keras kepada Israel agar menghentikan operasi militer di wilayah Lebanon.
“Saran saya jelas: akhiri sesegera mungkin. Dan satu hal lagi, jangan ganggu Lebanon!” ujar Parolin dengan nada tinggi pada Rabu (18/3) lalu. (*)



















