TOPMEDIA-Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) terus memperkuat langkah pengendalian inflasi menjelang Ramadan dan Idulfitri. Salah satunya dengan menggelar panen cabai rawit bersama Kelompok Tani (Poktan) Sendang Biru pada Kamis (12/2/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas harga pangan, khususnya komoditas cabai yang kerap mengalami kenaikan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menjelaskan bahwa cabai yang dipanen merupakan hasil tanam sejak Oktober tahun lalu.
Penanaman tersebut memang dipersiapkan untuk mengantisipasi lonjakan harga cabai yang biasanya terjadi menjelang bulan puasa.
Menurut Antiek, saat ini harga cabai di pasar mulai meningkat dan berada di kisaran Rp70.000 hingga Rp85.000 per kilogram.
Namun, keberadaan hasil panen dari kelompok tani lokal diharapkan mampu menekan permintaan ke pasar sehingga harga tetap terkendali.
“Ini merupakan panen ketujuh Poktan Sendang Biru. Dengan sekitar 1.300 pohon cabai, potensi hasilnya cukup besar untuk membantu memenuhi kebutuhan warga sekitar. Varietas yang ditanam adalah cabai Ori, yang dikenal memiliki kualitas tinggi dan nilai jual terbaik,” jelasnya.
Selain mengandalkan produksi dari kelompok tani, DKPP Surabaya juga mendorong partisipasi masyarakat melalui gerakan Satu Rumah Dua Pohon yang disinergikan dengan program Kampung Pancasila.
Melalui gerakan ini, warga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan cabai secara mandiri saat harga pasar meningkat.
“Jika setiap rumah menanam minimal dua pohon cabai, maka ketergantungan terhadap pasar akan berkurang. Ini sangat membantu menjaga stabilitas harga secara keseluruhan,” tambah Antiek.
Untuk mengantisipasi kenaikan harga komoditas lain seperti telur dan daging ayam, Pemkot Surabaya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai intervensi.
Langkah tersebut meliputi pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, serta pengawasan ketersediaan stok pangan bersama kementerian terkait.
Dalam kegiatan panen kali ini, DKPP juga melakukan pengendalian hama tikus secara terpadu bekerja sama dengan UPT Proteksi Tanaman Pemerintah Provinsi Jawa Timur guna menjaga produktivitas lahan pertanian.
Menjelang Ramadan, Antiek memastikan bahwa ketersediaan seluruh komoditas pangan di Kota Surabaya dalam kondisi aman dan mencukupi.
Ia optimistis, melalui sinergi lintas sektor, inflasi khususnya komoditas cabai dapat dikendalikan selama Ramadan dan Idulfitri tahun ini.
“Hasil pemantauan menunjukkan pasokan pangan di Surabaya aman. Kami mengimbau masyarakat untuk berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan,” tegasnya.
Sementara itu, Suprapto (67), anggota Poktan Sendang Biru, mengungkapkan bahwa dirinya rutin memanen cabai rawit setiap lima hari sekali dengan hasil sekitar 6 hingga 8 kilogram per panen.
Berbeda dengan harga pasar yang cenderung tinggi, ia memilih menjual cabai kepada warga sekitar dengan harga lebih terjangkau.
“Kalau di pasar bisa sampai Rp85.000 per kilogram, saya jual Rp70.000 saja untuk membantu tetangga. Meski ada kendala seperti serangan virus kuning, bantuan bibit dari Pemkot Surabaya sangat membantu kami,” ujarnya.



















