TOPMEDIA – Isu dugaan operasi terselubung Amerika Serikat di Iran kembali mencuat setelah mantan analis CIA, Larry Johnson, mengungkap klaim mengejutkan. Menurutnya, misi penyelamatan pilot jet tempur AS yang jatuh di wilayah Iran bukan semata operasi evakuasi, melainkan diduga menjadi kedok untuk mengambil cadangan uranium milik Teheran.
Johnson menyebut sasaran utama operasi tersebut adalah sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya dan disimpan dalam silinder khusus. Ia menilai narasi resmi yang disampaikan pemerintah Amerika, termasuk pernyataan mantan Presiden Donald Trump, tidak sepenuhnya menggambarkan tujuan sebenarnya dari pengerahan pasukan besar-besaran itu.
Menurut dia, skala operasi yang melibatkan lebih dari 150 pesawat dinilai terlalu besar jika hanya ditujukan untuk mengevakuasi satu pilot yang jatuh. Johnson bahkan menilai perencanaan misi tersebut berakhir dengan kegagalan setelah pasukan AS mendarat di sebuah lapangan terbang terpencil di kawasan gurun, lalu segera dikepung oleh militer Iran.
Dalam keterangannya, Johnson juga menyebut Iran berhasil menghancurkan dua pesawat angkut besar jenis C-130 serta satu helikopter serang selama operasi berlangsung. Klaim ini memperkuat narasi dari pihak Teheran yang sejak awal menuding ada agenda lain di balik misi penyelamatan tersebut.
Sebelumnya, Donald Trump justru memuji peran CIA dalam operasi penyelamatan pilot AS yang pesawat F-15E-nya ditembak jatuh di wilayah Iran. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump mengatakan badan intelijen itu memainkan peran vital melalui kemampuan pengawasan canggih yang mampu memantau posisi pilot selama sekitar 45 menit di malam hari.
Trump mengisyaratkan bahwa CIA menggunakan teknologi pengintaian rahasia, yang diduga berasal dari drone maupun satelit, untuk melacak pergerakan pilot tersebut. Informasi itu kemudian digunakan sebagai dasar untuk mengarahkan tim penyelamat menuju lokasi korban yang bersembunyi di area pegunungan.
Di sisi lain, Direktur CIA John Ratcliffe mengungkap bahwa lembaganya menjalankan kampanye disinformasi sebagai bagian dari strategi operasi. Langkah itu dilakukan untuk mengelabui pasukan Iran, sehingga memberi waktu bagi militer AS mengevakuasi petugas sistem senjata dari jet tempur F-15E Strike Eagle yang sebelumnya berhasil melontarkan diri dari pesawat.
Ratcliffe menambahkan, personel yang terluka akhirnya ditemukan di sebuah celah pegunungan yang tidak terlihat oleh pasukan Iran. Ia menyebut keberhasilan evakuasi tersebut sebagai operasi yang berani dan sekaligus mempermalukan pihak Iran.



















