Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Ngerinya Super Flu, Begini Pengakuan Korban

×

Ngerinya Super Flu, Begini Pengakuan Korban

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi penyakit flu (dok.halodoc)
toplegal

TOPMEDIA – Michaela Knapp, seorang ibu berusia 52 tahun warga Sheffield, Inggris, menceritakan betapa parahnya gejala ‘super flu’ yang dialaminya. Padahal, ia sudah pernah menerima vaksin influenza.

Ilustrasi penyakit flu (dok.halodoc)

Michaela Knapp sampai harus menjalani perawatan di rumah sakit selama lima hari. Di saat itulah, ia baru mengetahui kalau terinfeksi strain baru flu yang disebut-sebut sebagai ‘super flu’ itu.

HALAL BERKAH

Knapp dilarikan ke Northern General Hospital, Sheffield, menggunakan ambulans setelah mengalami sesak napas hebat disertai nyeri punggung yang luar biasa.

Padahal, ia dikenal bugar dan sehat, meski memiliki riwayat asma yang selama ini terkontrol dengan baik.

“Saya benar-benar terkejut, takut, dan sangat kesakitan,” kata Michaela yang dikutip dari BBC.

Baca Juga:  Ayu Puspita WO Abal-Abal Resmi Berbaju Tahanan

Kasus Michaela terjadi di tengah lonjakan pasien flu di rumah sakit Inggris. NHS England mengatakan bahwa situasi ini sebagai kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tahun ini, beredar varian mutasi virus influenza H3N2 yang dijuluki sebagai ‘super flu’.

Awal Mula Gejala Muncul

Michaela bersama putranya yang berusia 17 tahun awalnya mengira hanya terkena COVID-19, setelah sama-sama merasa tidak enak badan.

Namun, kondisi mereka berdua semakin memburuk seiring berjalannya waktu akhir pekan.

“Awalnya hanya sakit tenggorokan pada Kamis. Tapi pada Minggu malam, punggung bawah saya mulai terasa sangat tidak nyaman,” tutur Michaela.

“Pada Senin, rasa sakitnya luar biasa dan napas saya sangat buruk,” tambahnya.

Baca Juga:  Punya Komorbid, Warga Bandung Meninggal Akibat Super Flu

Ia mengaku tidak pernah mengaitkan nyeri punggung dengan flu. Menurutnya, rasa sakit tersebut tajam dan menusuk.

“Rasanya seperti ditusuk alat pemecah es di sepanjang punggung bawah,” beber Michaela.

Ia kemudian menghubungi layanan darurat 111. Tak lama petugas mengirim ambulans untuknya, sementara sang anak disarankan menjalani perawatan mandiri di rumah.

“Suhu tubuh saya sangat tinggi, mencapai 39,6 derajat Celsius. Pernapasan saya buruk, dan setelah pemeriksaan mereka mengatakan saya harus dibawa ke UGD,” sambungnya. (*)

TEMANISHA.COM