Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Momentum Baru Perfilman Indonesia: JAFF Market 2025 Gaet Kolaborasi Global

×

Momentum Baru Perfilman Indonesia: JAFF Market 2025 Gaet Kolaborasi Global

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Perhelatan JAFF Market 2025 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, kembali menjadi sorotan dunia perfilman. Diselenggarakan pada akhir November hingga awal Desember lalu, rangkaian acara yang menjadi bagian dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ini bukan hanya menjadi tempat bertemunya insan film, tetapi juga wadah penting untuk memperkuat ekosistem kekayaan intelektual (IP) di Indonesia dan Asia.

Sejak hari pertama, JAFF Market menunjukkan bahwa ia lebih dari sekadar pasar film. Forum ini menjadi titik temu gagasan yang mempertemukan sineas, produser, distributor, investor, hingga kreator IP dari berbagai industri. Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin, bahkan menyebut JAFF Market sebagai etalase terbesar bagi dunia perfilman Indonesia, sebuah ruang yang membantu menghubungkan pelaku industri dari berbagai wilayah untuk membuka kolaborasi nyata.

HALAL BERKAH

Senada dengan itu, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai JAFF Market memainkan peran strategis sebagai jembatan antara dunia IP dan industri film. Dengan dukungan berkelanjutan terhadap karya kreator lokal, ajang ini diharapkan menjadi batu loncatan agar film dan serial Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.

Baca Juga:  Gaun Pernikahan Ikonis Princess Diana: Warisan Abadi untuk William dan Harry

Tahun ini, JAFF Market menghadirkan enam program utama: JAFF Future Project, Content Market, Talent Day, Film & Market Conference, Market Screening, serta Networking Events. Seluruh program tersebut dirancang untuk menjadi ruang belajar, berbagi inspirasi, sekaligus memperluas peluang kerja sama.

Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin, Senior Vice President MSME Amar Bank Josua Sloane dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno hadir dalam pembukaan JAFF Market 2025.

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah JAFF Future Project, yang menyeleksi sepuluh proyek film baru. Termasuk di dalamnya adalah debut penyutradaraan Kanya Iwana berjudul Ibu, drama lintas generasi yang diproduksi bersama Amerika Serikat. Hadirnya kolaborasi semacam ini memperkuat posisi JAFF Market sebagai magnet bagi kerja sama internasional.

Dukungan sponsor seperti Amar Bank juga menunjukkan bahwa JAFF Market semakin mantap menjadi ajang profesional yang berkelanjutan. Kehadiran pembeli dan distributor dari luar negeri menegaskan peran Yogyakarta yang kini tak hanya dikenal sebagai kota budaya, tetapi juga sebagai salah satu pusat industri film Asia Tenggara yang mulai diperhitungkan.

Baca Juga:  Punya Komorbid, Warga Bandung Meninggal Akibat Super Flu

Dengan meningkatnya jumlah peserta dan jejaring global yang terbentuk, JAFF Market 2025 sukses menegaskan posisinya sebagai penggerak pertumbuhan industri film Indonesia. Ajang ini tak hanya mempertemukan ide dan karya, tetapi juga membuka jalur distribusi baru, memperkuat promosi IP lokal, dan membangun koneksi internasional. Dari Yogyakarta, pesan penting pun menggaung: Indonesia siap bersaing di pasar film dunia dengan kekuatan IP lokal sebagai tulang punggungnya.

Tahun ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk pertama kalinya turut hadir secara resmi dalam JAFF Market. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno bersama jajaran Pemprov hadir untuk menunjukkan komitmen Jakarta menjadi “The City of Cinema”, sekaligus memperkuat posisi ibu kota sebagai pusat industri kreatif nasional dan pemain penting di pasar film global.

Baca Juga:  Surabaya Fashion Parade Makin Meriah dengan Kehadiran Arumi Bachsin dan Irish Bella

“Melalui JAFF Market, kami ingin menyerap aspirasi insan film, memperluas jejaring profesional, dan belajar dari praktik negara lain agar kebijakan yang lahir benar-benar relevan dengan kebutuhan sineas,” ujar Rano Karno.

Jakarta sendiri memiliki sejarah panjang dalam perkembangan perfilman Indonesia, mulai dari berdirinya bioskop pertama di Tanah Abang, hadirnya lokasi-lokasi ikonik dalam film, hingga keberadaan lembaga penting seperti PFN, Taman Ismail Marzuki, dan Pusat Perfilman Usmar Ismail. Dominasi Jakarta sebagai pusat industri film juga terlihat dari data bahwa sekitar 80 persen dari total 141 rumah produksi nasional berada di kota ini. Dengan potensi pasar lebih dari 30 juta penduduk Jabodetabek serta capaian 122 juta penonton bioskop pada 2024, 65 persenya  memilih film lokal, dnegan demikian, Jakarta memiliki kekuatan audiens yang sangat besar. (*)

TEMANISHA.COM