Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Menkeu Optimis Rupiah Bakal Perkasa Dua Pekan Mendatang, Ini Alasannya!

×

Menkeu Optimis Rupiah Bakal Perkasa Dua Pekan Mendatang, Ini Alasannya!

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Pemerintah berupaya meredam gejolak di pasar valuta asing menyusul tekanan terhadap mata uang rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah akan segera berbalik arah dan menguat terhadap dollar AS dalam kurun waktu dua pekan ke depan.

Optimisme ini muncul di tengah bayang-bayang kebijakan proteksionisme Amerika Serikat yang kembali memanas. Menkeu meminta pelaku pasar dan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi spekulasi yang tidak perlu.

HALAL BERKAH

“Tidak usah panik, rupiah akan segera menguat dalam dua minggu ke depan,” ujar Purbaya saat ditemui wartawan di Jakarta, Rabu (14/1/2026) lalu.

Purbaya menegaskan bahwa koordinasi antarkelembagaan tetap menjadi kunci. Saat ini, Kementerian Keuangan terus menjalin komunikasi intensif dan menunggu masukan dari Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter yang memegang kendali stabilitas nilai tukar.

Baca Juga:  Menkeu Purbaya Tolak Penerapan Tax Amnesty Jilid Baru, Bisa Rusak Kredibilitas Pemerintah

Secara paralel, pemerintah fokus pada perbaikan kinerja sektor riil untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap di jalur yang direncanakan. Purbaya mematok target ambisius namun realistis, yakni pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen pada tahun 2026.

“Fondasi ekonomi kita terus membaik. Tidak ada alasan untuk takut mengonversi aset ke rupiah. Anda bisa lihat di pasar modal, arus modal asing sudah masuk. Jika dikelola dengan benar, mengembalikan penguatan rupiah bukanlah hal yang sulit,” tambahnya.

Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, rupiah sempat menunjukkan tanda-tanda perlawanan dengan menguat tipis 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp 16.870 per dollar AS. Namun, posisi ini masih dipandang rentan oleh sejumlah analis.

Baca Juga:  Menkeu Sebut Pembayaran Iuran Board of Peace Rp17 Triliun dari Anggaran Kemenhan

Meskipun pemerintah bersikap optimistis, tantangan dari eksternal tidak bisa dipandang sebelah mata. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan adanya potensi pelemahan rupiah yang dipicu oleh kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump.

Trump baru saja mengumumkan rencana pemberlakuan tarif sebesar 25 persen bagi negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran. Kebijakan ini dinilai bakal memicu ketegangan baru, terutama dengan China yang merupakan mitra dagang utama Indonesia sekaligus importir terbesar minyak Iran.

“Pengumuman ini meningkatkan ketegangan perdagangan global. Hari ini, rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp 16.800 hingga Rp 16.900 per dollar AS,” kata Josua.

Di sisi lain, data ekonomi domestik AS memberikan sinyal yang beragam. Inflasi Desember 2025 di AS tetap stabil di level 2,7 persen secara tahunan, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sementara itu, daya beli masyarakat AS yang tetap tangguh—tercermin dari penjualan rumah baru yang melampaui prediksi—memperkuat posisi dollar AS di hadapan mata uang negara berkembang (emerging markets).

Baca Juga:  Pemerintah Pastikan Tarif Cukai Rokok Tak Naik di 2026, Harga Eceran Tetap

Kini, pasar menanti langkah konkret dari Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk merealisasikan prediksi penguatan dalam dua pekan ke depan. Di tengah ketidakpastian global, narasi ketenangan yang dibawa pemerintah diharapkan mampu menjadi jangkar bagi stabilitas ekonomi nasional. (*)

TEMANISHA.COM