TOPMEDIA – Presiden Prabowo Subianto melantik Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026-2030 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (28/1/2026). Dewan Energi Nasional tersebut terdiri terdiri dari 7 anggota dari unsur pemerintah dan 8 dari pemangku kepentingan.
Berdasarkan struktur organisasi DEN, Presiden Prabowo menjabat sebagai Ketua DEN dan Wapres Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Ketua DEN. Sedangkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ditunjuk sebagai Ketua Harian.
Dari unsur pemerintah selain Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menjabat ketua harian, anggotanya meliputi Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, Mendiktisaintek Brian Yuliarto, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, Mentan Andi Amran Sulaiman, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq dan Menhub Dudy Purwagandhi.
Sedangkan delapan anggota dari unsur pemangku kepentingan meliputi kalangan akademisi (dua orang), industri (2), teknologi (1), lingkungan hidup (1), dan konsumen (2).
Pengelompokan anggota DEN ini mencerminkan keberagaman perspektif yang dibutuhkan untuk menyusun kebijakan energi nasional yang komprehensif. Berikut adalah profil kedelapan anggota baru DEN tersebut.
1. Kalangan Akademisi: Jembatan Timur dan Barat
Sektor akademisi diwakili oleh dua sosok dengan spesialisasi yang saling melengkapi. Pertama, Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, putra asli Sorong, Papua Barat Daya. Kehadirannya krusial untuk membawa perspektif pembangunan energi dari kawasan Indonesia Timur. Sebagai Koordinator PII wilayah Papua, Johni fokus pada riset energi baru terbarukan yang relevan dengan karakteristik wilayah kepulauan.
Kedua adalah Dr. Mohamad Fadhil Hasan. Pakar ekonomi asal Bogor ini merupakan pendiri INDEF yang memiliki rekam jejak panjang dalam kebijakan pembangunan. Dengan latar belakang pendidikan dari Harvard Institute, mantan tim ahli Wakil Presiden Ma’ruf Amin ini bertugas memastikan kebijakan energi selaras dengan ketahanan ekonomi nasional.
2. Kalangan Industri: Kolaborasi Politisi Senior dan Srikandi Energi
Dari lini industri, muncul nama Dr. Ir. Satya Widya Yudha. Ia adalah kombinasi langka antara eksekutif migas global dan politisi senior. Pengalamannya sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI menjadikannya paham betul bagaimana menyinkronkan kebutuhan industri dengan regulasi pemerintah.
Mendampingi Satya, hadir Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani, satu-satunya perempuan dalam jajaran anggota DEN yang baru. “Srikandi” asal Pati ini memiliki rapor mentereng di sektor ketenagalistrikan, termasuk pernah menjabat sebagai Direktur Pengadaan Strategis PT PLN (Persero) dan Tenaga Ahli Menteri ESDM. Keahliannya dalam transformasi energi hijau menjadi aset besar bagi DEN.
3. Kalangan Teknologi: Sang Ahli Material
Dr. Ir. Unggul Priyanto menjadi wakil tunggal dari kalangan teknologi. Mantan Kepala BPPT periode 2014–2019 ini membawa fondasi keilmuan yang sangat kokoh. Lulusan ITB yang meraih gelar Doktor dari Kyushu University, Jepang ini, spesifik menguasai teknologi material dan kimia energi. Di tangannya, inovasi teknologi diharapkan menjadi motor penggerak transisi energi Indonesia.
4. Kalangan Lingkungan Hidup: Pengawal Keberlanjutan
Mewakili aspek kelestarian alam, hadir Dr. Ir. Saleh Abdurrahman. Pria asal Lombok ini bukan orang baru di sektor energi; ia memiliki pengalaman panjang di BPH Migas. Sebagai Wakil Ketua Umum Masyarakat Energi Biomassa Indonesia, Saleh bertugas memastikan bahwa ambisi pemenuhan energi tidak mengorbankan keseimbangan ekosistem dan lingkungan hidup.
5. Kalangan Konsumen: Suara Rakyat dan Keamanan Geofisika
Terakhir, namun tak kalah penting, adalah keterwakilan konsumen yang diisi oleh dua pakar dengan sudut pandang berbeda. Dr. Muhammad Kholid Syeirazi adalah dosen Universitas Indonesia yang vokal mengenai tata kelola migas dan ketahanan energi. Ia bertugas memastikan kebijakan energi berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
Melengkapi daftar ini adalah Dr. Ir. Surono. Dikenal luas sebagai pakar geofisika dan mitigasi bencana, pria lulusan Prancis ini membawa perspektif keamanan infrastruktur energi. Di negara yang rawan bencana seperti Indonesia, keahlian Surono sangat dibutuhkan untuk memastikan objek vital nasional di sektor energi tetap aman dari ancaman geologis.
Dengan komposisi yang komplet ini, Dewan Energi Nasional diharapkan mampu merumuskan strategi yang tidak hanya teknis-operasional, tetapi juga ekonomis, ramah lingkungan, dan inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)



















