Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
INTERNATIONAL

Mengintip Perayaan Idul Fitri di Negara Muslim, Ternyata Beda Banget

×

Mengintip Perayaan Idul Fitri di Negara Muslim, Ternyata Beda Banget

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi perayaan hari besar di masyarakat Iran. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Ternyata, perayaan hari besar umat Islam tidak selalu terasa sama di setiap negara. Meski Idul Fitri dan Idul Adha sama-sama penting, namun dasar pada dinamika sosial, ekonomi, hingga budaya lokal membuat salah satu di antaranya bisa terasa jauh lebih dominan.

Secara global, terdapat pola menarik di mana negara dengan budaya konsumsi dan mobilitas tinggi cenderung memeriahkan Idul Fitri, sementara wilayah dengan tradisi qurban dan kedekatan bersama ibadah haji lebih menonjolkan Idul Adha.

HALAL BERKAH

Di wilayah seperti Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura), Asia Selatan (Pakistan, Bangladesh, India Muslim), hingga Turki dan sebagian Balkan menunjukkan dominasi kuat saat perayaan Idul Fitri.

Sementara itu di kawasan lain, Idul Fitri atau Lebaran bukan hanya perayaan religius, tetapi juga fenomena sosial dan ekonomi terbesar dalam setahun.

Di Indonesia misalnya, tradisi mudik, belanja besar-besaran, hingga silaturahmi keluarga menjadikan Idul Fitri sebagai puncak aktivitas masyarakat.

Dampaknya bahkan terasa pada sektor transportasi, ritel, hingga perbankan. Idul Fitri di negara-negara ini adalah “festival sosial” berskala nasional.

Namun, berbeda dengan Asia, di Timur Tengah (khususnya Arab Saudi dan negara Teluk) serta Afrika Utara dan Barat (Maroko, Nigeria, Senegal, Mali), Idul Adha justru lebih terasa.

Di Arab Saudi, Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji, menghadirkan jutaan jamaah dari seluruh dunia. Skala ini menjadikannya perayaan keagamaan terbesar secara global.

Baca Juga:  Spanyol Diguyur Hujan, Banjir Tutup Ibiza dan Catalonia

Kemudian di Afrika, Idul Adha berkembang menjadi kombinasi antara ibadah dan budaya. Di Nigeria, festival Durbar dengan parade kuda secara besar-besaran menjadi daya tarik yang tidak ditemukan saat Idul Fitri.

Yang menjadi ciri utama kawasan tersebut adalah menjadikan ibadah qurban sebagai pusat aktivitas, adanya libur panjang dan perayaan publik, dan keterkaitan erat dengan ritual haji.

Kemudian di sejumlah negara seperti Mesir, Yordania, Irak, serta Ethiopia dan Kenya, kedua perayaan hari besar itu memiliki porsi yang relatif seimbang.

Idul Fitri tetap menjadi momentum sosial, sementara Idul Adha menonjol sebagai ritual religius yang kuat melalui qurban.

Lantas Mengapa Bisa Berbeda?

Perbedaan ini tidak terjadi secara kebetulan. Ada tiga faktor utama:

1. Faktor Haji

Wilayah yang dekat dengan pusat haji, seperti Arab Saudi, secara alami menjadikan Idul Adha sebagai puncak perayaan.

2. Tradisi Qurban

Di Afrika dan Timur Tengah, qurban bukanlah sekadar ibadah, melainkan juga sebagai aktivitas sosial besar yang melibatkan komunitas luas.

3. Faktor Ekonomi dan Budaya

Di Asia, Idul Fitri menjadi sebuah momentum konsumsi terbesar-mulai dari transportasi, makanan, hingga pakaian-yang memperkuat posisinya sebagai perayaan utama.

Baca Juga:  RI Peringatkan AS: Serangan ke Venezuela Preseden Berbahaya, Picu Ketidakpastian Global

Bagaimana di Arab Saudi?

Perbedaan Perayaan di Indonesia dan Saudi Arabia perayaan idul Fitri memiliki karakter yang berbeda.

Di Indonesia Lebaran identik dengan mudik massal hingga tradisi halal bihalal yang berlangsung berhari-hari, di Arab Saudi suasana Idul Fitri cenderung lebih sederhana dan tidak terlalu meriah.

Sejumlah faktor budaya hingga prioritas keagamaan membuat cara masyarakat merayakan Idul Fitri di Arab Saudi memiliki nuansa tersendiri dibandingkan negara Muslim lainnya.

Salah satu faktor adalah posisi Idul Adha yang dinilai memiliki bobot sosial dan spiritual lebih besar di Arab Saudi.

Karena hal ini berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji yang berpusat di Makkah, yang juga menjadi puncak dari perayaan Idul Adha.

Dikarenakan memiliki keterkaitan langsung dengan salah satu rukun Islam, Idul Adha memiliki kesan yang jauh lebih kuat di Arab Saudi.

Momentum ini menjadi perayaan keagamaan sekaligus peristiwa besar yang menarik perhatian umat Islam dari seluruh dunia.

Meski tidak semeriah di Indonesia, Idul Fitri di Arab Saudi tetap dirayakan dengan berbagai tradisi. Perayaan diawali dengan salat Id berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan berkumpul bersama keluarga, khususnya di rumah anggota keluarga yang lebih tua.

Baca Juga:  Arab Saudi Buka Akses WNA Investasi Bisnis

Anak-anak biasanya menerima eidiya atau uang hadiah Lebaran, yang memiliki kemiripan dengan tradisi pemberian THR di Indonesia bagi anak-anak kecil.

Di beberapa kota, perayaan juga diramaikan dengan acara hiburan seperti pertunjukan, festival, hingga pesta kembang api.

Perayaan Idul Fitri di Arab Saudi lebih berfokus pada ibadah dan kebersamaan keluarga inti. Hal ini berbeda dengan Indonesia, di mana Lebaran berkembang menjadi perayaan sosial berskala besar melalui tradisi mudik, open house, hingga silaturahmi lintas daerah.

Bagaimana dengan Iran?

Di Iran, perayaan keagamaan dan budaya berbeda dibanding mayoritas negara Muslim. Asyura menjadi perayaan religius paling besar.

Sebagai negara dengan mayoritas Muslim Syiah, Iran menjadikan Asyura sebagai momentum religius paling penting. Perayaan ini memperingati wafatnya Imam Husain dalam tragedi Karbala-peristiwa sentral dalam sejarah Syiah.

Asyura dirayakan selama kurang lebih 10 hari di bulan Muharram, dengan partisipasi jutaan orang di seluruh negeri.

Ciri tersebut meliputi prosesi duka massal dengan pakaian hitam, ritual “matam” sebagai ekspresi kesedihan kolektif , pertunjukan Taziyeh, drama religius tentang Karbala, dan distribusi makanan gratis (nazri) kepada masyarakat.

Jauh berbeda dengan banyak negara Sunni, Asyura di Iran memiliki skala sosial dan emosional yang jauh melampaui Idul Fitri maupun Idul Adha. (*)

TEMANISHA.COM