TOPMEDIA – Setiap klub sepak bola memiliki legenda, baik itu dari kalangan pemain maupun staff mereka. Kini, kita mengulik sebuah nama bagi sepak bola Surabaya tentang dedikasi dan kesetiaannya yang bernama Mbah Madrai.
Awal Kehidupan dan Karier sebagai Pemain
Mbah Mad atau Mbah Madrai lahir pada 10 Agustus 1947/1948 di Surabaya. Sejak muda ia sudah sangat menyukai si kulit bundar itu.
Ia memulai kariernya sebagai pemain di kompetisi internal Persebaya Surabaya pada era 1960–1970-an. Saat itu ia memperkuat klub-klub internal seperti Assyabab (1966–1973) dan Mitra Surabaya (1974–1976).
Saat itu untuk menembus tim utama Persebaya begitu ketat dan sulit. Banyaknya nama pesepakbola yang beken ada di dalam tim kebanggaan warga Surabaya, Mbah Mad tak pernah patah arang.
Semangat bermain sepak bola untuk kita tercinta berbuah hasil. Titik penting datang pada 1978, Mbah Mad menjadi bagian NIAC Mitra, salah satu klub besar di era kompetisi Galatama (liga semi-profesional pertama di Indonesia).
Peralihan Dari Pemain ke Masseur
Mbah Mad sepertinya digariskan untuk menjadi bagian official dari sebuah tim. Karier Mbah Mad berubah drastis karena sebuah kejadian tak terduga.
Seorang pemain NIAC saat mengalami cedera ia mencoba membantu dengan memijat dan hasilnya mengejutkan, pemain tersebut sembuh.
Sejak saat itu, bakat alaminya sebagai masseur (tukang pijat) mulai diakui. Pada 1979, ia memutuskan pensiun dini sebagai pemain di usia sekitar 30 tahun dan fokus menjadi masseur tim.
Dengan tanpa disadari keputusan ini justru menjadi titik awal legenda besar dalam sepak bola Indonesia.
Berjaya Bersama NIAC Mitra
Sebagai masseur, Mbah Mad menjadi bagian penting kesuksesan NIAC Mitra. Klub dengan basis hiburan di Surabaya ini meraih gelar juara Galatama pada musim 1980–1982 dan 1982–1983.
Ada sebuah momen paling bersejarah adalah ketika NIAC Mitra mengalahkan klub Inggris, Arsenal, dengan skor 2-0 pada 1983 di Surabaya, prestasi yang sangat membanggakan pada masanya dan Mbah Mad ada di dalam barisa tim saat itu.
Kiprah Melatih dan Mengembangkan Talenta
Selain menjadi masseur, Mbah Mad memiliki kemampuan kepelatihan. Ia juga sempat melatih tim junior NIAC Mitra dan beberapa sekolah sepak bola.
Mbah Mad turut membina pemain-pemain muda yang kemudian dikenal di kancah nasional, menunjukkan bahwa kontribusinya tidak hanya di pinggir lapangan, tetapi juga dalam pembinaan.
Loyalitas Tinggi Terpatri Bersama Persebaya
Pada 2001, Mbah Mad kembali ke Persebaya sebagai masseur. Dari masa kembalinya itu, ia menjadi bagian tak terpisahkan dari klub tersebut selama hampir dua dekade.
Ia turut merasakan berbagai momen penting, termasuk Juara Divisi Utama 2004. Bertahan di tengah konflik dualisme klub (2011–2015).
Juara Liga 2 2017 dan kembali ke kasta tertinggi
Kesetiaan mbah Mad sangat luar biasa ia tetap bertahan meski sempat ada tawaran pindah ke klub lain saat dualisme menggelantung di langit Surabaya.
Ciri Khas dan Keunikan
Mbah Mad sangat dikenal memiliki metode pijat yang unik, bahkan hanya dengan menggunakan sabun mandi sebagai pelicin sesuatu yang jarang dilakukan oleh masseur profesional.
Meski tanpa pendidikan formal dalam ilmu masseur, kemampuannya diakui banyak pemain, baik lokal maupun asing. Ia juga dikenal sebagai sosok yang sangat humoris dan sangat dekat dengan para pemain.
Pensiun dan Wafat
Setelah lebih dari 40 tahun mengabdi di dunia sepak bola, Mbah Mad memutuskan pensiun pada 2020 karena faktor usia.
Setahun setelah purna tak lama kemudian, ia meninggal dunia pada 11 April 2021 dalam usia 72–73 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Persebaya dan pecinta sepak bola Indonesia.
Warisan dan Legenda
Mbah Mad bukan sekadar legenda karena gol atau trofi sebagai pemain, melainkan karena: Dedikasi lebih dari 40 tahun di sepak bola
Peran penting di balik layar sebagai masseur, loyalitasnya tanpa kompromi terhadap Persebaya, ia sangat memiliki kedekatan emosional dengan pemain.
Mbah Mad menjadi simbol kesetiaan, hal itu menjadi bukti bahwa dalam sepak bola, tidak hanya pemain atau pelatih yang menjadi legenda tetapi juga sosok di balik layar yang bekerja dengan hati.
Ket : Mbah Mad (official Persebaya)



















