TOPMEDIA – Di balik predikat Surabaya sebagai salah satu kota paling inovatif di Indonesia, tersimpan tantangan besar bagaimana mengelola ribuan gagasan agar tidak hanya menjadi tumpukan dokumen administratif tetapi benar-benar berdampak bagi warga.
Menjawab tantangan itu, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Surabaya meluncurkan platform digital SI EPID (Sistem Informasi Pengembangan Inovasi Daerah) yang digagas untuk mendokumentasikan dan mensinergikan aneka inovasi yang dilahirkan pemerintah Surabaya maupun rakyatnya.
Platform ini dirancang sebagai otak digital yang akan mengintegrasikan seluruh terobosan mulai dari tingkat dinas, kecamatan, kelurahan, hingga puskesmas dan sekolah, ke dalam satu ekosistem yang terukur.
Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji mengatakan, selama ini, inovasi di lingkungan pemerintah daerah kerap terjebak dalam sekat-sekat birokrasi. “Sebuah terobosan di satu puskesmas mungkin saja sangat efektif, namun sering kali luput dari pantauan atau sulit direplikasi oleh unit lain karena datanya yang tersebar,” katanya di Surabaya, Sabtu (24/1/2026).
Nah, SI EPID hadir untuk menyatukan kepingan-kepingan inovasi tersebut. “Surabaya memiliki ribuan potensi inovasi setiap tahunnya. Kami ingin memastikan setiap ide tidak hanya tercatat, tapi bisa diukur tingkat kematangannya (maturity level) secara nyata,” lanjutnya.
Melalui SI EPID, kata dia, Pemkot Surabaya berupaya mewujudkan kebijakan berbasis riset (science-based policy). Aplikasi ini berfungsi sebagai repositori pusat yang mendokumentasikan setiap tahapan inovasi—dari sekadar proposal, masa uji coba, hingga implementasi di lapangan untuk mencegah terjadinya duplikasi program yang memboroskan anggaran.
Salah satu fitur unggulan dalam sistem ini adalah Self-Assessment atau pengukuran mandiri. Fitur ini memungkinkan para inovator menilai kualitas terobosannya berdasarkan indikator Innovative Government Award (IGA) dari Kementerian Dalam Negeri. Dengan begitu, setiap unit kerja memiliki standar yang sama dalam menciptakan solusi publik.
Namun, esensi dari SI EPID lebih dari sekadar mengejar skor indeks. Agus menekankan bahwa teknologi ini adalah alat untuk memetakan solusi atas persoalan mendasar warga, seperti penanganan tengkes (stunting) dan pengentasan kemiskinan.
“Kami ingin inovasi di Surabaya bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Melalui Dasbor Monitoring, pimpinan daerah bisa melihat secara transparan mana inovasi yang benar-benar berdampak (impactful) untuk kemudian didukung penuh,” tambahnya.
Kehadiran SI EPID juga dilengkapi dengan Klinik Inovasi Digital, sebuah ruang pendampingan virtual bagi para ASN dan masyarakat umum untuk mengonsultasikan ide mereka sebelum diluncurkan. Hal ini diharapkan mampu memicu budaya kompetisi yang sehat antarinstansi di lingkungan pemerintah kota.
Langkah BRIDA ini menjadi bagian dari peta jalan besar Surabaya menuju World Class Smart City. Dengan sistem yang terintegrasi, Surabaya berupaya membuktikan bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya dilihat dari fisiknya, tetapi dari seberapa cerdas birokrasinya mengelola pengetahuan dan inovasi untuk kesejahteraan masyarakatnya. (*)



















