Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCEENTREPRENEURSHIP

Menaker Yassierli: Perusahaan Wajib Bantu Pekerja Berkembang, Bukan Sekadar Memberi Pekerjaan

×

Menaker Yassierli: Perusahaan Wajib Bantu Pekerja Berkembang, Bukan Sekadar Memberi Pekerjaan

Sebarkan artikel ini
Iluistrasi pekerja. freepik.
toplegal

TOPMEDIA-Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan bahwa perusahaan tidak cukup hanya menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Menurutnya, perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk membuka kesempatan bagi pekerja agar terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan berkembang dalam kariernya.

Ia menilai masih banyak pekerja yang berada di posisi yang sama selama bertahun-tahun tanpa kesempatan untuk meningkatkan kemampuan atau memperluas kompetensi. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak seharusnya menjadi hal yang dianggap wajar dalam dunia kerja modern.

HALAL BERKAH

Pengembangan Pekerja Jadi Strategi Jangka Panjang

Yassierli menjelaskan bahwa memberikan ruang bagi pekerja untuk berkembang bukan sekadar bentuk kepedulian perusahaan terhadap karyawan. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan strategi jangka panjang yang akan memberikan dampak positif bagi keberlanjutan perusahaan.

Pekerja yang merasa diberdayakan dan mendapat kesempatan berkembang biasanya memiliki keterikatan yang lebih kuat terhadap perusahaan tempatnya bekerja. Hal itu pada akhirnya dapat meningkatkan loyalitas, semangat kerja, serta kontribusi yang lebih besar terhadap kemajuan perusahaan.

Baca Juga:  Hingga Agustus 2025, Angka PHK di Indonesia Mencapai 44.333 Kasus

Menurutnya, ketika pekerja diberi peluang untuk meningkatkan kemampuan, mereka tidak hanya bekerja untuk memenuhi kewajiban, tetapi juga merasa memiliki peran penting dalam organisasi.

Pekerjaan Harus Memberi Makna

Menaker menilai pemberdayaan pekerja juga berkaitan dengan menciptakan pekerjaan yang memiliki makna bagi mereka. Pekerja yang merasa pekerjaannya berarti akan memiliki tingkat keterlibatan yang tinggi serta semangat untuk memberikan kontribusi lebih dari sekadar menjalankan tugas rutin.

Dengan demikian, perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan individu sekaligus mendorong kolaborasi yang sehat di dalam organisasi.

Nilai Gotong Royong Perlu Dihidupkan Kembali

Dalam kesempatan tersebut, Yassierli juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah dalam hubungan industrial.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari karakter bangsa Indonesia yang dapat menjadi kekuatan sosial dalam menghadapi dinamika hubungan kerja di masa depan.

Baca Juga:  Hadapi Lonjakan Tarif Amerika, Ekspor Alas Kaki Indonesia Terancam Lesu

Ia menilai bahwa semangat kebersamaan tersebut perlu kembali dihidupkan agar hubungan antara perusahaan dan pekerja dapat terjalin secara lebih harmonis dan saling mendukung.

Prihatin Banyak Pekerja Tidak Berkembang

Yassierli mengaku merasa prihatin jika masih ada pekerja yang telah bekerja selama 10 hingga 20 tahun tetapi tidak mengalami perkembangan dalam karier maupun keterampilannya.

Padahal, setiap manusia memiliki potensi besar untuk berkembang. Karena itu, perusahaan dinilai memiliki peran penting dalam membantu pekerja menemukan serta mengoptimalkan potensi yang mereka miliki.

Dorong Pekerja Belajar Keterampilan Baru

Sebagai contoh, Yassierli mengungkapkan bahwa ia mendorong berbagai pekerja di lingkungan kerja untuk mempelajari keterampilan baru, termasuk kemampuan menggunakan komputer.

Menurutnya, upaya tersebut penting agar pekerja memiliki bekal yang cukup untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi dan dinamika dunia kerja yang semakin cepat.

Ia bahkan mendorong berbagai profesi, mulai dari pengemudi, petugas keamanan, hingga petugas kebersihan, untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan mereka.

Baca Juga:  Ini Bocoran Kenaikan Upah Minimum Provinsi 2026

Dunia Kerja Penuh Ketidakpastian

Menaker juga mengingatkan bahwa dunia kerja di masa depan akan diwarnai tingkat ketidakpastian yang semakin tinggi. Dalam situasi seperti itu, kemampuan beradaptasi atau agility menjadi faktor kunci agar pekerja maupun perusahaan dapat bertahan dan berkembang.

Karena itu, ia berharap perusahaan-perusahaan di Indonesia, termasuk Jasa Marga, dapat menjadi contoh dalam membangun hubungan industrial yang tidak hanya harmonis, tetapi juga benar-benar memanusiakan pekerja dan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan masa depan.

Perusahaan Diminta Memanusiakan Pekerja

Yassierli menegaskan bahwa perusahaan idealnya tidak hanya fokus pada produktivitas semata, tetapi juga pada pengembangan manusia yang bekerja di dalamnya.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya menciptakan tenaga kerja yang kompeten, tetapi juga membangun organisasi yang kuat dan siap menghadapi berbagai perubahan di masa depan.

TEMANISHA.COM