TOPMEDIA – Sepanjang tahun 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11 persen. Angka ini menunjukkan tren positif meski belum mampu memenuhi target yang ditetapkan dalam APBN 2025 sebesar 5,2 persen.
Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya belanja masyarakat dan kinerja sejumlah sektor usaha yang tumbuh positif.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Sepanjang tahun 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen. Pertumbuhan ini masih ditopang oleh belanja masyarakat yang relatif stabil,” ujarnya dikutip, Rabu (11/2).
Amalia menambahkan, berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB), ekonomi Indonesia atas dasar harga berlaku sepanjang 2025 tercatat lebih dari Rp 23.000 triliun, sementara atas dasar harga konstan mencapai Rp 13.000 triliun.
Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor mencatatkan pertumbuhan positif, kecuali pertambangan yang mengalami kontraksi.
“Apabila kita lihat, seluruh lapangan usaha tumbuh positif pada tahun 2025 kecuali lapangan usaha pertambangan,” jelasnya.
Pertumbuhan tertinggi dicatat sektor jasa lainnya, jasa perusahaan, transportasi, dan pergudangan. Sementara itu, kontribusi terbesar terhadap PDB berasal dari industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan.
“Lapangan usaha dengan kontribusi besar terhadap ekonomi itu, industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan,” kata Amalia.
Menurut laporan BPS, sektor industri pengolahan menyumbang lebih dari 19 persen terhadap PDB nasional, menjadikannya tulang punggung ekonomi Indonesia.
Sektor perdagangan menyumbang sekitar 13 persen, sementara pertanian berkontribusi 12 persen. Konstruksi juga mencatatkan kontribusi signifikan dengan lebih dari 10 persen terhadap PDB.
Selain itu, data Bank Indonesia menunjukkan inflasi sepanjang 2025 terkendali di kisaran 2,8 persen, mendukung daya beli masyarakat.
Namun, perlambatan di sektor pertambangan akibat penurunan harga komoditas global menjadi salah satu faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi agar tidak mencapai target APBN. (*)



















