Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
INTERNATIONAL

Mahasiswa Indonesia Mendominasi Job Fair Beijing, Persaingan Kerja Global Makin Ketat

×

Mahasiswa Indonesia Mendominasi Job Fair Beijing, Persaingan Kerja Global Makin Ketat

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Di tengah ketatnya persaingan dunia kerja internasional, ribuan pencari kerja dari berbagai negara memadati Beijing untuk berburu peluang karier. Tidak hanya membawa curriculum vitae, mereka juga datang dengan harapan besar untuk membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Tiongkok (PERMIT) Beijing menggelar bursa kerja secara luring dan daring pada 11–12 April 2026. Kegiatan ini mendapat sambutan luar biasa dengan total 1.300 pendaftar dari berbagai negara. Menariknya, sekitar 600 peserta di antaranya merupakan mahasiswa Indonesia, menunjukkan tingginya minat generasi muda Tanah Air untuk menembus pasar kerja global.

HALAL BERKAH

Acara yang berlangsung di Beijing University of Chemical Technology tersebut menghadirkan 36 perusahaan dari berbagai sektor. Puluhan perusahaan itu membuka ratusan lowongan pekerjaan dan memberi kesempatan bagi para peserta untuk berinteraksi langsung dengan perekrut.

Suasana bursa kerja terasa berbeda karena tidak hanya mengandalkan sistem rekrutmen digital. Di tengah era seleksi berbasis algoritma, acara ini justru menghadirkan pengalaman tatap muka yang dinilai lebih personal.

Baca Juga:  Penghormatan Buckingham di Pemakaman Ozzy Osbourne, Lagu Paranoid Berkumandang

Anna Pinkiewicz, mahasiswa pascasarjana asal Polandia, mengaku lebih memilih hadir langsung dibanding sekadar mengirim lamaran secara online. Menurutnya, bertemu langsung dengan perekrut memberi kesempatan untuk membangun kesan pertama yang lebih kuat.

“Di sini lebih terasa terbuka untuk orang asing,” ujarnya.

Ia menilai pengalaman tersebut sangat berarti, terutama di China yang selama ini dikenal memiliki peluang terbatas bagi kandidat internasional. Kali ini, Anna melihat adanya suasana yang lebih inklusif dan ramah bagi pencari kerja dari luar negeri.

Hal serupa dirasakan Marvell Millensza, mahasiswa Indonesia jurusan teknik mesin. Bagi Marvell, ajang ini bukan sekadar tempat mencari pekerjaan, tetapi juga kesempatan memahami kebutuhan industri dan arah perkembangan dunia kerja.

Melalui percakapan langsung di setiap stan perusahaan, peserta bisa memperoleh gambaran mengenai prospek karier, keterampilan yang dibutuhkan, hingga pilihan antara melanjutkan pendidikan atau langsung terjun ke dunia profesional.

Beberapa perusahaan bahkan memberikan masukan strategis terkait jenjang karier, termasuk saran untuk menuntaskan pendidikan hingga S2 demi peluang gaji yang lebih baik serta percepatan posisi di tempat kerja.

Baca Juga:  Diundang ke Indonesia, Putin : "Siap! Saya Akan Datang"

Di sisi lain, perusahaan peserta juga memiliki kriteria yang semakin spesifik. Salah satunya perusahaan perangkat lunak konstruksi asal China, Glodon, yang tidak hanya mencari kandidat dengan kemampuan teknis, tetapi juga kecocokan karakter, kemampuan bahasa, serta pemahaman lintas budaya.

Mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di China dinilai memiliki keunggulan tersendiri. Mereka dianggap mampu memahami budaya kerja lokal sekaligus mengenal konteks pasar Indonesia yang terus berkembang. Nilai tambah inilah yang membuat mereka semakin dilirik perusahaan.

Perusahaan e-commerce besar seperti JD.com juga menegaskan bahwa penguasaan bahasa menjadi salah satu faktor penting. Untuk penempatan internasional, kemampuan bahasa lokal sangat dibutuhkan, sementara untuk bekerja di China, bahasa Mandarin tetap menjadi syarat utama.

Kesadaran itu juga dirasakan Jeremy Nanda, mahasiswa asal Semarang. Ia sengaja memperkuat kemampuan bahasa Mandarin sebagai modal utama untuk bersaing di pasar kerja internasional.

Menurut Jeremy, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga kunci untuk membuka peluang yang lebih luas.

Baca Juga:  Filipina Pangkas Jam Kerja Nasional, Indonesia Masih Belum Mengikuti

Di balik ramainya bursa kerja tersebut, tersimpan pesan yang lebih besar mengenai pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah. Wakil Kepala Perwakilan KBRI Beijing, Parulian Silalahi, menekankan bahwa sinergi ketiga pihak sangat penting dalam membangun ekosistem karier global yang kuat.

Ia juga menyebut sektor energi hijau, manufaktur, dan perdagangan internasional sebagai bidang yang memiliki prospek besar ke depan.

Fenomena yang terjadi di Beijing menjadi gambaran nyata perubahan zaman. Persaingan kerja kini tidak lagi terbatas pada tingkat lokal, tetapi sudah merambah ranah global. Karena itu, mahasiswa dituntut tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif, komunikatif, dan mampu bersaing lintas budaya.

Menariknya, di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi, interaksi langsung justru kembali menjadi nilai lebih. Bursa kerja ini menunjukkan bahwa di balik data, CV, dan sistem otomatis, hubungan antarmanusia tetap memegang peran penting dalam menentukan masa depan. (*)

TEMANISHA.COM