TOPMEDIA – Kawasan Kota Tua Jakarta kembali mencuri perhatian setelah dipilih sebagai lokasi pengambilan gambar film laga internasional Extraction: Tygo. Film yang dibintangi Lisa BLACKPINK dan aktor Korea Selatan Ma Dong Seok itu melakukan syuting pada 28–29 Januari 2026. Salah satu titik yang digunakan adalah Gedoeng Jasindo, bangunan bersejarah yang berada tepat di sebelah Café Batavia.
Bangunan kolonial ini bukan sekadar latar film, tetapi juga menyimpan jejak penting dalam perjalanan industri asuransi di Indonesia. Gedoeng Jasindo dikenal sebagai tempat lahirnya cikal bakal PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), sebuah perusahaan asuransi milik negara yang berdiri sejak era awal kemerdekaan.
Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema, menyampaikan bahwa gedung tersebut memiliki makna historis yang kuat. Menurutnya, Gedoeng Jasindo menjadi simbol awal komitmen perusahaan dalam memberikan perlindungan bagi masyarakat Indonesia. Ia juga menilai terpilihnya gedung ini sebagai lokasi syuting film berskala global menunjukkan bahwa nilai sejarah dan keindahan arsitektur Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.
Meski telah direvitalisasi pada 2022, Gedoeng Jasindo hingga kini belum dibuka untuk masyarakat umum dan tidak difungsikan sebagai destinasi wisata. Terkait penggunaan gedung untuk keperluan film, Gema menjelaskan bahwa pihak produksi telah mengajukan izin resmi sesuai prosedur yang berlaku, meskipun ia tidak merinci lebih jauh proses perizinan tersebut.
Soal sejarah pendirian gedung, Jasindo mengakui belum memiliki informasi resmi yang benar-benar pasti. Sejumlah sumber menyebutkan tahun berdiri yang berbeda. Arkeolog senior Andrian Attahiyat, dalam tulisan di majalah Tempo tahun 2019, menyebut gedung ini dibangun pada 1920. Namun, beberapa sejarawan lain meyakini pembangunannya sudah dimulai sejak 1912. Karena tidak dibuka untuk umum, pihak Jasindo juga belum menyediakan informasi khusus bagi wisatawan.
Berdasarkan berbagai catatan sejarah, bangunan ini awalnya digunakan sebagai kantor dagang bernama Kantoorgerbouw West Java (WEVA) Handel Maatschappij. Dari tempat inilah hasil bumi dari wilayah Priangan, seperti teh dan kopi, dikumpulkan sebelum dikirim ke Eropa. Nama WEVA sempat terpampang di bagian atas gedung sebelum akhirnya diganti menjadi Gedoeng Jasindo seperti yang dikenal sekarang.
Di depan gedung, terdapat potongan rel trem peninggalan era Batavia yang kini dilapisi kaca agar tetap terjaga. Tepat di seberangnya berdiri Museum Fatahillah, yang pada masa kolonial Belanda berfungsi sebagai balai kota atau Stadhuis.
Dari sisi arsitektur, Gedoeng Jasindo mengusung gaya Art Deco, rancangan biro arsitek Belanda NV Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont bersama Ed. Cuypers. Gaya ini banyak diterapkan di wilayah tropis karena desainnya memungkinkan sirkulasi udara panas keluar melalui bagian atas bangunan. Sejak 2019, gedung ini resmi ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi melalui SK Nomor 1074 Tahun 2019.
Gedung tersebut merupakan kantor pertama Jasindo sebelum akhirnya ditinggalkan karena kondisinya memburuk. Atap bangunan sempat mengalami kerusakan parah dan bahkan roboh akibat hujan serta angin kencang, seperti diberitakan Koran Tempo pada April 2015. Dalam masa kekosongan, gedung ini sempat dimanfaatkan sebagai tempat biliar dan area berdagang pakaian, rokok, hingga minuman ringan, yang membuat kondisinya semakin kumuh dan tak terawat. (*)



















