TOPMEDIA – Minimnya lapangan pekerjaan formal menjadi salah satu faktor utama yang menekan daya beli masyarakat pada 2026. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira.
Kondisi ini diperkirakan akan semakin terasa seiring sulitnya mencari pekerjaan di sektor formal.
Bhima menjelaskan, selain masalah lapangan kerja, kenaikan harga komoditas menjelang Ramadhan juga berpotensi menekan daya beli konsumen.
Ia menuturkan bahwa meskipun produksi sejumlah bahan pokok tercatat surplus, seperti beras, suplai komoditas tersebut juga terserap untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini semakin masif dengan anggaran melonjak hampir lima kali lipat dibandingkan 2025.
“Itu akan menciptakan atau memicu kenaikan inflasi pangan yang sebenarnya sudah mulai terasa,” kata Bhima, Rabu (14/1/2026).
Untuk mengatasi tekanan terhadap konsumsi masyarakat, Bhima menyarankan pemerintah merevisi kebijakan perpajakan yang berpengaruh besar terhadap kelas menengah.
“Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebaiknya dipangkas menjadi 8–9 persen agar mendorong masyarakat lebih aktif berbelanja,” ujarnya.
Ia juga menekankan perlunya percepatan transmisi penurunan suku bunga, sehingga nasabah yang tengah mencicil KPR maupun kredit kendaraan bermotor bisa mendapatkan nominal cicilan lebih rendah.
Selain itu, penciptaan lapangan kerja baru harus menjadi prioritas agar fiskal yang lebih agresif benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas belanja negara.
“Selain itu juga yang perlu dilakukan adalah menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Jadi fiskal yang lebih agresif dengan defisit yang lebar itu sebenarnya harus dicek apakah kualitas belanjanya bisa mendorong penciptaan lapangan kerja,” imbuh Bhima.
Bank Indonesia (BI) mencatat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat pada Desember 2025, dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level optimis sebesar 123,5. Meski demikian, angka tersebut turun 0,5 poin dibandingkan November 2025 yang tercatat 124.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga mengalami penurunan tipis masing-masing dari 111,5 dan 136,6 pada November menjadi 111,4 dan 135,6 pada Desember.
Sementara itu, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) justru meningkat menjadi 106,5 dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 103,7.
Bhima Yudhistira menekankan perlunya kebijakan fiskal dan moneter yang lebih tepat sasaran, termasuk pemangkasan PPN, percepatan penurunan suku bunga, serta penciptaan lapangan kerja baru agar konsumsi domestik tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi. (*)



















