TOPMEDIA-Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya mencatat tren peningkatan jumlah pengunjung dalam dua tahun terakhir.
Kinerja kunjungan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Surabaya tersebut menunjukkan pertumbuhan positif jika dibandingkan antara tahun 2024 hingga akhir 2025.
Direktur Operasional PDTS KBS, Nurika Widyasanti, menyampaikan bahwa jumlah pengunjung meningkat sekitar 5–10 persen dalam periode tersebut.
Pada 2024, total kunjungan tercatat sekitar 1.994.000 orang, sementara pada 2025 naik menjadi kurang lebih 2.101.000 pengunjung atau bertambah lebih dari 100 ribu orang.
Selain kenaikan kunjungan, PDTS KBS terus memperkuat daya tarik melalui pengembangan wahana dan koleksi satwa. Sejumlah fasilitas baru telah dihadirkan, seperti wahana gokart dan kereta hutan.
Dari sisi koleksi, penambahan populasi terjadi melalui kelahiran satwa, salah satunya kapibara yang dikenal memiliki tingkat perkembangan cepat.
Nurika menjelaskan, populasi kapibara di Kebun Binatang Surabaya berkembang pesat dalam waktu singkat. Dari awalnya hanya sepasang, kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar delapan ekor.
Ke depan, upaya pengembangbiakan juga diarahkan pada jenis satwa lain agar regenerasi satwa dapat berlangsung berkelanjutan.
Pada aspek konservasi, PDTS KBS tengah menyiapkan rencana pelepasliaran (restocking) komodo ke habitat alaminya di Nusa Tenggara Timur, termasuk opsi lokasi di Pulau Komodo atau Pulau Flores.
Tahap awal, jumlah komodo yang diusulkan untuk dilepasliarkan berkisar empat hingga lima ekor.
Saat ini, PDTS KBS masih melakukan identifikasi lanjutan, termasuk penentuan rasio jenis kelamin dan proses habituasi agar satwa benar-benar siap kembali ke alam liar.
Nurika menambahkan, KBS dikenal sebagai salah satu pusat pengembangbiakan komodo di Indonesia dengan populasi mencapai sekitar 80 ekor, mayoritas berada pada fase remaja hingga dewasa.
Terkait prosedur, usulan pelepasliaran telah diajukan ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur untuk diteruskan ke kementerian terkait.
Meski waktu realisasi belum ditentukan, pihak PDTS KBS optimistis program tersebut dapat berjalan mengingat komodo merupakan satwa prioritas nasional.



















