TOPMEDIA – Presiden Prabowo Subianto baru saja memanggil sejumlah menteri ke kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, dalam sebuah rapat terbatas (ratas) pada Minggu (15/2) malam. Pertemuan tersebut difokuskan pada penguatan strategi Indonesia dalam menghadapi dinamika dan perundingan ekonomi global.
Prabowo juga menekankan bahwa diplomasi ekonomi tidak boleh semata-mata bersifat transaksional jangka pendek, melainkan harus berdampak langsung pada penguatan struktur ekonomi nasional. Dalam hal ini, peningkatan produktivitas industri dalam negeri dan penguatan rantai pasok global menjadi prioritas utama.
“Dalam pertemuan ini, Presiden menegaskan beberapa langkah yang akan diambil, termasuk memastikan kebijakan yang diambil Indonesia saat ini sifatnya menguntungkan dan yang terbaik bagi seluruh masyarakat, meningkatkan produktivitas industri dalam negeri, serta terus berkontribusi dalam memperkuat rantai pasok global,” demikian keterangan akun Presiden Republik Indonesia, dikutip pada Senin (16/2).
Pertemuan ini dihadiri empat orang menteri di bidang ekonomi. Antara lain Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Lebih lanjut, Prabowo menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil pemerintah harus berorientasi pada hasil konkret yang dapat dirasakan oleh bangsa dan negara. Prabowo berkomitmen bahwa diplomasi ekonomi Indonesia harus berdaulat, strategis, dan menguntungkan bagi kepentingan nasional.
Sementara, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjelaskan, pertemuan itu difokuskan pada penguatan strategi Indonesia dalam menghadapi dinamika ekonomi global sekaligus mematangkan posisi tawar pemerintah dalam setiap perundingan internasional.
Menurut Teddy, Presiden menegaskan bahwa setiap langkah diplomasi ekonomi harus berpijak pada kepentingan nasional dan tidak semata berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Terlebih, dalam waktu dekat pemerintah akan meneken kesepakatan dengan Amerika Serikat terkait tarif dagang yang telah dinegosiasikan sebelumnya.
“Memastikan posisi yang diambil Indonesia dalam setiap perundingan ekonomi dengan siapapun, khususnya dalam waktu dekat dengan Amerika Serikat adalah yang terbaik dan paling menguntungkan untuk Indonesia,” ujar Teddy dalam keterangan tertulis. Artinya, Presiden meminta hasil perundingan benar-benar mendukung pertumbuhan industri, penciptaan lapangan kerja, serta daya saing nasional.(*)



















