Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
EDUTECH

Konsumsi Mi Dalam Durasi Waktu Lama Dapat Menyebabkan Malnutrisi

×

Konsumsi Mi Dalam Durasi Waktu Lama Dapat Menyebabkan Malnutrisi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi mi instan. (Foto: Pinterest)
toplegal

TOPMEDIA – Bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera membuat segala keadaan menjadi darurat.

Para korban terdampak bencana kesulitan mendapatkan makanan serta asupan gizi yang baik. Kondisi ini membuat ahli kesehatan angkat suara.

HALAL BERKAH

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, menilai anak balita yang diberi makan mi instan dalam situasi darurat bencana seperti di Sumatera, bisa dimaklumi.

Pasalnya, mengingat adanya keterbatasan makanan bergizi dalam keadaan darurat bencana membuat pasokan makanan bergizi sangat minim.

Kendati demikian, asupan mi instan tidak bisa dikonsumsi dalam dalam jangka panjang, fase itu menurut dokter anak itu bisa ditoleransi saat penanganan awal bencana saja.

Baca Juga:  8 Tren Digital yang Akan Mengubah Dunia Tahun 2026, Jangan Sampai Kamu Ketinggalan

“Tapi darurat itu kan enggak lama-lama ya, darurat itu mungkin tiga hari pertama, misalkan enggak ada makanan apapun selain mi instan ya mungkin oke untuk survival (bertahan hidup) ya,” kata Piprim di Kantor IDAI, Jakarta, Senin (22/12/2025).

Kebutuhan gizi balita dan orang dewasa sangat berbeda kata Pimprin, menurutnya resiko gangguan gizi pada anak akan jauh meningkat apabila mengonsumsi mi instan berlebihan atau dalam jangka waktu lama.

Ia menjelaskan, mi instan mengandung karbohidrat dan garam yang tinggi, tetapi rendah protein serta serat, sehingga dapat berdampak buruk pada pemenuhan gizi anak.

“Kalau sampai berbelasan hari, sampai berminggu-minggu, tentu ini akan memberi dampak malnutrisi pada anak-anak. Ketika anak-anak itu khususnya balita dia butuh nutrisi protein hewani misalkan yang cukup ya, dengan lemaknya, dengan karbohidratnya, saya kira ini tentu akan mengganggu masalah status nutrisi mereka,” jelas Piprim.

Baca Juga:  Sumatera Dalam Ancaman Cuaca Ekstrem, Masyarakat Diminta Waspada

Piprim juga menekankan pentingnya penyediaan dapur Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI), terutama ketika jalur logistik dan bantuan mulai terbuka.

Piprim menambahkan apabila hal tersebut belum dapat dilakukan, ia menyarankan pemanfaatan pangan dengan teknologi retort, yakni metode sterilisasi makanan dalam kemasan tertutup melalui pemanasan bersuhu tinggi dan tekanan tertentu untuk membunuh mikroorganisme penyebab pembusukan.

Rendang sebagai salah satu makanan yang cocok untuk situasi bencana lanjut Piprin. .

“Tetapi apabila sudah ada akses, kondisi ideal tentu saja bikin dapur umum, kondisi ideal bikin dapur umum, tapi apabila itu belum ada, yang terbaik sebetulnya makanan yang diawetkan ya, teknologi retort ya, yang di-vacuum gitu, kemudian dia pakai sterilisasi tanpa zat kimia,” ucap dia.

Baca Juga:  5 Cara Charge HP yang Justru Bikin Baterai Cepat Jebol

“Mungkin makanan-makanan ini kan bisa mengandung protein hewani, atau karbohidrat juga yang bisa siap santap tanpa proses yang ribet gitu ya, jadi kemarin juga ada yang mengirim rendang misalkan. Makanan-makanan yang awet tapi nutrisinya tinggi, ini juga sangat diperlukan,” tambahnya. (*)

TEMANISHA.COM