TOPMEDIA – Tidak ada yang istimewa dari seorang satpan dengan seragam kuning sebuah bank yang bertugas menyapa dan membukakan pintu setiap nasabah yang datang. Demikian juga suasana pagi itu. Sebuah bank plat merah di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, tampak lengang, hanya ada seorang satpam yang berdiri menyapa satu, dua nasabah yang mulai datang dengan senyum ramah. Seragam kuning yang dikenakannya sama seperti penjaga bank yang lainnya. Tidak ada yang spesial, namuan rupanya dibalik rutinitasnya, tersimpan kisah tentang ketekunan dan tekadnya untuk mengubah nasibnya sendiri. Pelan, namun pasti.
Namanya Khoirul Anam, S.M., S.Pd., M.M., CHRMP, 28 tahun. Bagi banyak orang, ia mungkin hanya dikenal sebagai petugas keamanan di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok. Tetapi dibalik tugas menjaga ketertiban dan keamanan, Anam menyimpan perjalanan intelektual yang jauh melampaui dugaan. Ia telah mengantongi tiga gelar perguruan tinggi, menulis delapan buku, dan melahirkan belasan karya ilmiah.
Produktivitasnya akademiknya dimulai dari kebiasaan mencatat laporan harian tugas yang kemudian berkembang menjadi artikel ilmiah dan buku nasional. Berdasarkan data Google Scholar, karya Anam telah dikutip sebanyak 31 kali dengan h-index 2. Anam meyakini bahwa filosofi hidup akan mengantarkan seseorang mencapai puncaknya. Demikian juga dia, prinsip hidupnya “Jadilah manusia yang karyanya tetap mengalir meski napas telah berhenti,”. Disiplin menjaga keamanan bank berjalan beriringan dengan kedisiplinan menulis.
Punya Tiga Gelar Di balik kesigapannya menjaga pintu bank, Anam mampu meraih tiga gelar sekaligus, yang pertama S1 Manajemen di Universitas Pamulang, S1 Pendidikan Agama Islam di STIT Bustanul Ulum, Lampung Tengah serta Magister Managemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma.
Menjalani kuliah sambil bekerja sebagai satpam bukanlah pilihan yang ringan. Waktu menjadi sesuatu yang harus dinegosiasikan setiap hari. Anam kerap berada di persimpangan antara tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab akademik. Ia mengakui, tantangan terbesarnya adalah mengatur waktu, bahkan jika itu berarti mengorbankan jam tidur.
“Kesulitannya di pengelolaan waktu. Kadang kita harus mengurangi waktu istirahat untuk menyelesaikan penelitian,” ujarnya kepada media yang menemuinya lalu, Selasa (3/2/2026).
Namun, keterbatasan justru menjadi ruang bagi Anam untuk tetap bergerak. Di sela-sela berjaga, ia menulis. Di tengah lelah, ia masih mampu meneliti. Dedikasi tercatat resmi di antaranya 13 karya ilmiah resemi tercatat dalam rekor MURI, delapan judul buku yang telah terbit dan terdaftar di Perpustakaan Nasional (ISBN). Produktivitas itu belum berhenti. Tiga buku lainnya masih ia susun melalui program kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan lewat Dana Indonesiana.

Tak hanya buku, Anam juga konsisten menulis artikel ilmiah. Sebanyak 13 karya telah dipublikasikan di jurnal nasional dan internasional. Dua tulisan lainnya menjadi bagian dari penyelesaian skripsi dan tesis yang ia tempuh. Atas capaian tersebut, namanya dicatat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai satpam dengan jumlah karya ilmiah terbanyak. Penghargaan itu diterimanya pada Jumat (30/1/2026).
Meski demikian, jalan yang ia tempuh tidak selalu lapang. Biaya menjadi salah satu rintangan terbesar dalam perjalanan akademiknya. Menurut Anam, publikasi jurnal dan buku, terutama di media bereputasi, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dengan penghasilan sebagai satpam, ia harus realistis memilih jalur publikasi yang bisa dijangkau.
Tetap Menyimpan Harapan
Ia tetap menyimpan harapan. Dalam benaknya, suatu hari nanti karya-karyanya dapat terbit di jurnal terakreditasi nasional atau internasional yang lebih tinggi. Keinginan itu belum padam, meski saat ini masih tertahan oleh keterbatasan biaya.
Di balik prestasi dan penghargaan, Anam tetap menjalani keseharian dengan sederhana. Ia berdiri di depan pintu bank, menyapa nasabah, membantu mereka mencari arah, dan memastikan keamanan tetap terjaga. Tak ada yang berubah dari caranya bekerja.
Perjalanan hidup Anam sendiri penuh liku. Ia merantau dari Kabupaten Tanggamus, Lampung, ke Jakarta pada 2018 dengan bekal uang Rp 1 juta. Di tahun yang sama, ia sempat mengalami sakit berat hingga koma, sebuah fase yang hampir merenggut segalanya. Keluarganya sempat pesimistis, khawatir ia tak akan bertahan.
Namun justru dari titik itulah Anam menemukan makna baru. Ia merasa diberi kesempatan kedua untuk menjalani hidup dengan lebih sungguh-sungguh.
“Dari sakit itu muncul motivasi. Saya merasa hidup di umur kedua ini harus menjadi lebih baik,” katanya pelan.
Kini, langkah Anam belum berhenti. Ia terus belajar, menulis, dan menata mimpi. Di balik seragam satpam yang ia kenakan setiap hari, tersimpan cita-cita sederhana namun bermakna: suatu saat berdiri di ruang kelas, berbagi ilmu sebagai seorang pengajar. (*)



















