BALASAN itu datang lebih cepat dari yang kuduga.
Pagi itu, aku menerima surat resmi dari perusahaan. Bukan undangan rapat. Bukan klarifikasi. Tapi surat pemberhentian. Bahasanya dingin, rapi, dan kejam.
“Dengan ini kami menyatakan hubungan kerja Saudari Brina berakhir per tanggal hari ini, karena dianggap melakukan tindakan yang merugikan perusahaan.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali dan nyaris tidak percaya. Bertahun-tahun bekerja tanpa kontrak jelas, kemudian diakhiri dengan surat yang seolah aku adalah musuh.
Aku pun mendatangi kantor meski kartu aksesku sudah tidak berfungsi. Satpam di depan kantor menatapku ragu. “Maaf, Mbak… kami dapat instruksi.”
“Instruksi dari siapa? Ah, aku sudah tahu jawabannya,” gumamku dalam hati.
Di lantai atas, Breno sudah menungguku di ruang kaca. Senyumnya tenang, bahkan terlalu tenang. “Brina, ini bukan personal. Ini bisnis,” katanya sambil menyodorkan map berisi dokumen.
“Bisnis yang menyingkirkan darah sendiri?” tanyaku tajam.
Ia mengangkat bahu. “Bisnis tidak mengenal darah. Hanya akta.”
Kalimat itu menusuk tepat di tempat yang paling terasa sakit.
Tak berhenti di situ. Dalam hitungan hari, narasi baru disebar. Aku disebut karyawan emosional yang tidak puas, dan anak yang ingin mengambil alih perusahaan tanpa dasar hukum.
Beberapa klien lama mulai menjauh. Vendor bertanya-tanya. Karyawan pun terbelah. Sebagian diam, sebagian mulai menjauhiku seolah aku membawa masalah.
Papa tidak mau menemuiku lagi. Semua komunikasi denganku lewat kuasa hukum.
Mama mengirimiku pesan singkat, “Berhenti, Nak. Ini sudah terlalu jauh.”
Aku pun menangis malam itu. Bukan karena takut kalah, tapi karena sadar bahwa aku benar-benar sendirian sekarang.
Namun perang dari dalam selalu mahal. Tanpa aku sadari, keputusan-keputusan Breno mulai sembrono. Kontrak yang dulu kuperingatkan bermasalah kini benar-benar meledak.
Cashflow terganggu. Dua klien besar menunda pembayaran. Vendor meminta jaminan tambahan.
Bram meneleponku diam-diam. “Brin… perusahaan mulai goyah. Breno terlalu agresif. Papa sudah tidak pegang kendali penuh.”
Aku terdiam. Ironis. Saat aku disingkirkan, justru fondasi yang selama ini kupegang mulai runtuh.
Sidang pertama gugatan perdata telah dijadwalkan. Media mulai mencium konflik di perusahaan. Judul-judul kecil muncul: “Konflik Keluarga di Balik Perusahaan Besar.”
Aku berdiri di depan cermin malam itu, menatap diriku sendiri. Tidak lagi sebagai anak yang meminta pengakuan, tapi sebagai pihak yang berani melawan ketidakadilan.
Aku tahu, setelah ini tidak ada kompromi setengah-setengah.
Yang tersisa hanya dua kemungkinan: kebenaran terungkap… atau semuanya hancur bersama. (*/bersambung)



















