AKU akhirnya duduk berhadapan dengan seorang pengacara di ruang kecil yang tenang tapi terasa menyesakkan.
Di meja, aku mengeluarkan salinan akta, email lama, dan bukti keterlibatanku sejak awal di perusahaan.
Tanganku bergetar saat berkata, “Saya tidak ingin menghancurkan keluarga saya. Tapi saya juga tidak mau dihapus begitu saja.”
Pengacara itu menatap berkas-berkasku dengan serius. “Secara hukum, posisi Anda lemah karena tidak tercantum sebagai pemegang saham. Tapi ada celah: kontribusi substansial, peran operasional bertahun-tahun, dan indikasi perubahan akta tanpa itikad baik. Ini bukan perkara mudah, tapi bukan mustahil.”
Aku pulang dengan kepala penuh. Di rumah, Papa menungguku di ruang tamu. Wajahnya keras, suaranya dingin. “Kamu ke pengacara?” tanyanya tanpa basa-basi.
Aku mengangguk. “Iya, Pa. Aku tidak punya pilihan lain.”
Mama menutup mulutnya, menahan tangis. Bram berdiri di sudut ruangan, gelisah. Breno menyilangkan tangan, tersenyum tipis. “Kalau begitu,” katanya ringan, “Kita bertemu di ranah profesional.”
Papa membanting telapak tangan ke meja. “Kamu berani menyeret keluarga ke pengadilan?”
Aku menahan air mata. “Pa, aku tidak menyeret siapa pun. Aku hanya menuntut pengakuan. Bertahun-tahun aku bekerja, Pa. Tapi secara hukum, aku tidak ada.”
Papa memalingkan wajah. “Kamu anak Papa. Apa itu belum cukup?”
“Cukup untuk apa?” suaraku pecah.
“Untuk disuruh diam? Untuk disingkirkan?”
Hari-hari berikutnya berjalan cepat dan kejam. Surat somasi dikirim. Aksesku ke kantor dicabut total. Email perusahaan tidak lagi bisa kubuka.
Bahkan di grup keluarga, namaku tak lagi disebut. Breno bergerak cepat mengamankan dokumen, mengunci sistem, dan menyusun narasi bahwa aku hanya karyawan yang tidak puas.
Di tengah tekanan itu, aku merasa sendirian. Mama malah memintaku mundur. “Kalau kamu lanjutkan, Papa bisa sakit,” katanya lirih.
Bram memintaku berpikir ulang. “Nama keluarga kita taruhannya.”
Aku menatap mereka satu per satu. “Nama keluarga sudah dipertaruhkan saat aku dihapus diam-diam,” tukasku.
Malam sebelum gugatan resmi didaftarkan, aku duduk lama memandangi berkas.
Aku tahu, langkah ini akan mengubah segalanya. Aku tidak hanya melawan Breno, tapi aku juga melawan ayahku sendiri, sistem yang dibangunnya, dan ketakutan keluarga akan konflik.
Aku pun menandatangani berkas gugatan itu dengan mantap.
Di detik itu, aku sadar kalau kadang keadilan tidak datang karena kita anak, tapi karena kita berani berdiri sebagai pihak yang dirugikan. (*/bersambung)



















