Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
FAMILY BUSINESSES

Ketika Legalitas Mengalahkan Loyalitas (2): Peralihan Kepercayaan dari Anak Kandung ke Menantu

×

Ketika Legalitas Mengalahkan Loyalitas (2): Peralihan Kepercayaan dari Anak Kandung ke Menantu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi bisnis keluarga Brajantara Goup. (Foto: AI/Gemini)
toplegal

PERUBAHAN itu tidak terjadi dalam satu malam. Ia datang perlahan hampir tak terasa, sampai akhirnya aku sadar kalau aku bukan lagi bagian dari lingkaran dalam perusahaan ini.

Breno kini selalu duduk di kursi utama saat rapat. Ia yang membuka pembicaraan, ia yang menutup keputusan. Papa hanya mengangguk-angguk, sesekali menambahkan satu dua kalimat. Aku, yang dulu menyiapkan materi rapat dan memahami detail operasional, kini hanya diminta mencatat.

HALAL BERKAH

“Brina, tolong notulen ya,” kata Breno suatu pagi, tanpa menatapku.

Aku terdiam sejenak. Dulu, aku yang mempresentasikan laporan. Kini aku diminta menulis keputusan yang tidak pernah kumusyawarahkan.

Saat rapat usai, aku mencoba bicara dengan Bram di koridor kantor.

“Mas, kamu sadar nggak? Sekarang semua keputusan dipegang Breno.”

Baca Juga:  Kutukan Generasi ke-3, Pertarungan Kepemimpinan di Perusahaan Keluarga (6): RUPS yang Membara

Bram menghela napas. “Aku tahu. Tapi Papa percaya dia. Lagipula… Breno kan menantu. Dia dianggap netral.”

Netral. Kata itu terdengar lucu. Bagaimana mungkin seseorang yang memegang saham dan kuasa operasional disebut netral?

Beberapa minggu kemudian, aku baru tahu bahwa Breno sudah menandatangani kontrak besar dengan klien strategis. Kontrak itu melewati mejaku tanpa pernah kuberi masukan. Padahal, aku yang tahu risiko hukumnya.

Aku mendatangi Papa, sore itu.

“Pa, kontrak proyek Timur itu bermasalah. Klausul penalti dan jaminannya berat sekali. Kenapa Papa tanda tangan tanpa review tim lama?”

Papa menatapku dengan raut lelah. “Itu ide Breno. Dia bilang aman. Papa percaya.”

“Pa,” suaraku meninggi tanpa sengaja. “Percaya itu penting, tapi perusahaan ini butuh sistem, bukan rasa.”

Baca Juga:  Bisnis Keluarga dan Skandal Money Laundering (TPPU) (1): Dari Bisnis ke Politik

Papa berdiri. “Kamu terlalu emosional. Breno itu profesional. Dia tidak membawa perasaan seperti kamu.”

Kata-kata itu menamparku pelan tapi pasti. Profesional? Aku yang bekerja sejak awal dianggap emosional. Menantu yang baru masuk malah dianggap rasional.

Mama hanya menatapku dengan tatapan meminta mengerti. “Kamu jangan melawan Papa, nanti suasana rumah jadi tidak enak.”

Tidak enak? Lagi-lagi perasaanku dikorbankan demi ketenangan semu.

Hari demi hari, aksesku ke sistem perusahaan mulai dibatasi. Email penting tidak lagi menyalin namaku. Grup direksi dibuat tanpa aku. Bahkan, ruanganku dipindahkan ke lantai bawah, jauh dari ruang rapat utama.

Suatu pagi, aku mendengar staf berbisik. “Sekarang kalau mau keputusan cepat, langsung ke Pak Breno saja.”

Baca Juga:  Cyber Greed, Hancurnya Bisnis Keluarga di Era Digital (5): Jejak Hukum dan Ancaman Pidana

Aku tersenyum pahit. Tidak ada kudeta resmi. Tidak ada pengumuman. Tapi, kekuasaan sudah berpindah tangan.

Malam itu, aku membuka kembali akta perusahaan yang pernah kubaca. Namaku tetap tidak ada.

Aku sadar satu hal yang lebih menakutkan: bukan hanya aku tidak punya saham, aku juga tidak punya perlindungan.

Aku hanyalah pekerja.

Dan, pekerja bisa disingkirkan kapan saja.

Aku menutup berkas itu dengan tangan gemetar. Untuk pertama kalinya, ketakutan itu datang bukan karena kehilangan jabatan, tapi karena satu kesadaran pahit bahwa aku sedang disingkirkan secara perlahan dari bisnis yang seharusnya menjadi warisanku. (*/bersambung)

TEMANISHA.COM