TOPMEDIA – Kedelai merupakan salah satu komoditas yang produksi dalam negerinya masih minim, sehingga ketergantungan terhadap impor masih sangat tinggi.
Data menunjukkan sekitar 80–90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor, terutama dari Amerika Serikat.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Jawa Timur, Lucky Kristian, menegaskan bahwa kedelai impor mayoritas digunakan sebagai bahan baku utama industri tahu dan tempe.
Meski demikian, Lucky mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Oktober 2025 terjadi penurunan volume impor kedelai sebesar 20,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini dipicu oleh fluktuasi harga kedelai dunia akibat perang tarif antara Amerika Serikat dan China.
“Penurunan volume impor ini dipicu oleh fluktuasi harga kedelai dunia akibat perang tarif antara Amerika Serikat dan China,” jelas.
Di tengah turunnya impor, Jawa Timur justru mencatatkan peningkatan kinerja ekspor kedelai.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, ekspor kedelai pada periode Januari–Oktober 2025 naik sekitar 30,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
“Negara tujuan utama ekspor kedelai dari Jawa Timur adalah Timor Leste,” ungkap Lucky.
Memasuki awal tahun 2026, harga kedelai internasional tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,42 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ini dipengaruhi oleh optimisme pasar bahwa China akan terus mengimpor kedelai dari Amerika Serikat. Namun, Lucky menegaskan bahwa pasokan global sebenarnya cukup aman.
“Pasokan kedelai dunia pada awal 2026 ini relatif melimpah karena adanya panen raya di kawasan Amerika Latin,” ujarnya.
Menurut Lucky, kenaikan harga kedelai di dalam negeri lebih besar disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah, sehingga berdampak pada meningkatnya harga kedelai impor. Meski begitu, hasil pemantauan harga di Jawa Timur menunjukkan kondisi yang relatif terkendali.
“Berdasarkan pemantauan harga melalui panel harga, SP2KP, dan Siskaperbapo serta perbandingan dengan harga kedelai global, harga kedelai bulan ini justru relatif lebih rendah dibandingkan bulan yang sama tahun lalu,” jelasnya.
Ia merinci bahwa harga kedelai lokal turun sebesar 0,12 persen, sementara kedelai impor turun 0,84 persen.
Data Siskaperbapo Jawa Timur menunjukkan, harga kedelai lokal di tingkat konsumen pada 25 Desember 2025 sebesar Rp 13.047 per kilogram, kemudian turun menjadi Rp 12.937 per kilogram pada 24 Januari 2026.
Sementara itu, harga kedelai impor turun dari Rp 12.553 per kilogram menjadi Rp12.538 per kilogram pada periode yang sama.
Untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan ke depan, Disperindag Jawa Timur berkomitmen melakukan pengawasan ketat terhadap stok, harga, dan distribusi kedelai di daerah. (*)



















