TOPMEDIA – Pernah gak kalian merasa bingung saat mau beli monitor baru atau sekadar pamer ukuran smartphone, kenapa satuannya selalu inci dan bukan sentimeter? Padahal, di sekolah kita lebih sering pakai penggaris dengan satuan cm. Ternyata, kebiasaan menyebut ukuran layar secara diagonal dalam satuan inci ini bukan cuma kebetulan, tapi ada sejarah panjang dan alasan teknis yang bikin satuan ini bertahan sampai sekarang di era serba digital.
Fenomena ini sering kali dianggap sebagai standar keren dunia teknologi, padahal akar masalahnya ada pada warisan masa lalu saat TV tabung pertama kali ditemukan. Biar gak penasaran lagi pas lagi scrolling spek laptop idaman, yuk bedah alasan unik kenapa ukuran monitor pakai satuan inci yang sudah dirangkum khusus buat kalian.
1. Warisan Era Televisi Tabung (CRT)
Alasan paling mendasar kenapa kita masih pakai inci sampai hari ini adalah karena standar industri yang sudah terbentuk sejak zaman televisi tabung atau Cathode Ray Tube (CRT). Pada masa awal penemuan TV di Amerika Serikat, para produsen menggunakan tabung melingkar sebagai layar. Karena tabung itu berbentuk bulat, cara paling mudah untuk mengukurnya adalah dengan menarik garis lurus dari satu sisi ke sisi lain melewati titik tengah, alias diameter. Satuan inci dipilih karena teknologi ini lahir dan berkembang pesat di negara yang menggunakan sistem imperial.
Meskipun layar sekarang sudah berbentuk kotak sempurna atau widescreen, kebiasaan mengukur secara diagonal dari ujung kiri bawah ke ujung kanan atas tetap dipertahankan. Hal ini dilakukan agar konsumen tidak bingung saat beralih dari teknologi TV kuno ke monitor komputer modern yang kita pakai setiap hari.
2. Memudahkan Standarisasi Global
Dunia teknologi sangat didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar asal Amerika Serikat seperti IBM, Apple, dan Microsoft pada masa pertumbuhannya. Karena mereka menggunakan sistem inci dalam cetak biru produksinya, mau tidak mau seluruh dunia mengikuti standar tersebut. Menggunakan satuan inci membuat proses produksi massal jadi lebih seragam di seluruh dunia. Kalau setiap negara pakai satuan berbeda, bisa-bisa pabrik monitor bakal pusing mengatur ukuran panel yang presisi.
3. Angka yang Lebih Sederhana dan “Pas” di Telinga
Coba bayangkan kalau kalian bilang, “Gue baru beli monitor ukuran 60,96 sentimeter.” Kedengarannya ribet banget, kan? Bandingkan kalau kalian bilang, “Gue baru beli monitor 24 inci.” Secara psikologis dan pemasaran, angka dalam inci jauh lebih sederhana, bulat, dan mudah diingat oleh konsumen. Dalam dunia branding, angka yang kecil dan padat seperti “27 inci” atau “32 inci” terasa lebih catchy dan memberikan kesan produk yang premium namun tetap terukur dengan jelas.
4. Metode Pengukuran Diagonal yang Lebih Adil
Kenapa harus diukur miring (diagonal) dan bukan lebar atau tingginya saja? Ini berkaitan dengan aspek rasio yang beragam. Di pasar saat ini, ada layar dengan rasio 4:3, 16:9, hingga ultrawide 21:9. Kalau hanya mengukur lebar, layar yang tinggi tapi ramping akan terlihat “kecil”. Dengan menggunakan ukuran diagonal dalam inci, produsen bisa memberikan gambaran luas area layar secara keseluruhan tanpa terpengaruh oleh seberapa lebar atau tinggi bentuk fisiknya. Inilah cara paling adil untuk mengomunikasikan ukuran layar kepada pembeli.
5. Dominasi Pasar Amerika di Industri Elektronik
Hampir semua standar perangkat keras komputer dunia mengacu pada regulasi yang ada di Amerika Serikat. Meskipun banyak negara sudah menggunakan sistem metrik (sentimeter/meter), industri elektronik tetap setia pada inci karena sebagian besar paten dan desain awal komponen layar terdaftar dalam satuan tersebut. Inilah yang membuat inci menjadi “bahasa universal” dalam dunia gadget, sama halnya dengan ukuran velg mobil yang tetap pakai inci di seluruh dunia.
Memahami sejarah di balik inci bikin kita sadar kalau teknologi gak cuma soal kecanggihan, tapi juga soal tradisi yang terbawa sampai sekarang. Jadi, kalau nanti kalian ditanya teman soal ukuran monitor, kalian gak cuma tahu angka besarnya doang, tapi juga tahu cerita unik di baliknya. Tetap kritis dan terus eksplorasi hal-hal kecil di sekitar kita, karena bisa jadi ada sejarah besar yang tersimpan di balik layar yang tiap hari kalian tatap. (Respatih0



















