Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Kenapa Anak Muda Zaman Sekarang Jarang Membaca Buku?

×

Kenapa Anak Muda Zaman Sekarang Jarang Membaca Buku?

Sebarkan artikel ini
Minat baca anak muda terus menurun dalam dua dekade terakhir. Studi menunjukkan teknologi digital, media sosial, dan perubahan budaya menjadi faktor utama. (Foto: Pinterest)
toplegal

TOPMEDIA – Membaca buku pernah menjadi salah satu aktivitas utama anak muda untuk hiburan sekaligus menambah wawasan. Namun, dalam dua dekade terakhir, tren tersebut mengalami penurunan signifikan.

Beberapa dekade lalu, buku merupakan barang mewah yang tidak mudah diakses. Sehingga saat bisa membeli atau meminjam buku dibaca, pasti akan membuat senang dan antusias.

HALAL BERKAH

Para anak muda dan pelajar saat waktu istirahat sekolah atau menunggu di tempat umum menghabiskan waktu dengan membaca buku.

Namun, pemandangan anak muda menenteng buku kini semakin jarang. Mereka lebih banyak menatap layar gadget.

Generasi muda kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai, media sosial, dan hiburan digital.

Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan karena membaca memiliki peran penting dalam meningkatkan kosakata, kemampuan berpikir kritis, dan daya konsentrasi.

Baca Juga:  Lula Lahfah Sempat Bocorkan Riwayat Sakit Dirinya Sebelum Meninggal

Penyebab Anak Muda Tidak Suka Membaca Buku

1. Dominasi Teknologi dan Media Sosial
Studi menunjukkan bahwa salah satu faktor utama penurunan minat baca adalah meningkatnya penggunaan teknologi digital. Anak muda terbiasa mengonsumsi informasi dalam bentuk singkat melalui media sosial, sehingga kesulitan meluangkan waktu untuk membaca buku yang membutuhkan fokus lebih lama

2. Perubahan Budaya Hiburan
Jika dulu buku menjadi sumber hiburan, kini film, serial, gim, dan konten digital lebih menarik perhatian. Perubahan budaya ini membuat membaca dianggap kurang relevan dibandingkan hiburan visual yang lebih cepat dan instan.

3. Asosiasi Membaca dengan Tugas Sekolah
Bagi banyak pelajar, membaca sering dikaitkan dengan kewajiban akademik. Akibatnya, membaca buku di luar pelajaran dianggap beban, bukan aktivitas menyenangkan.

Baca Juga:  Kisah Cinta yang Berakhir Sunyi, Marissa Anita dan Andrew Trigg Resmi Berpisah

4. Faktor Ekonomi dan Akses
Penelitian juga menunjukkan bahwa menurunnya daya beli dan keterbatasan akses terhadap buku fisik di beberapa wilayah membuat anak muda lebih memilih konten digital gratis.

Sejak Kapan Tren Ini Berlangsung?

Penurunan minat baca mulai terlihat jelas sejak awal 2000-an, seiring dengan meningkatnya penetrasi internet dan munculnya media sosial.

Setelah pandemi COVID-19, tren ini semakin tajam karena anak muda semakin terbiasa dengan hiburan digital dan pembelajaran daring.

Studi yang dilakukan Priestley College (2025), menunjukkan anak muda lebih sulit meluangkan waktu membaca karena terbiasa dengan informasi singkat di media sosial. Hal ini berdampak pada menurunnya kemampuan konsentrasi dan pemahaman bacaan.

Baca Juga:  Seberapa Besar Peran E-Commerce dalam Mendorong Perkembangan Usaha di Indonesia?

“Generasi muda kini lebih terbiasa dengan konten singkat dan visual. Membaca buku membutuhkan kesabaran dan konsentrasi, sehingga terasa berat bagi mereka. Padahal, membaca adalah keterampilan penting untuk membangun daya pikir kritis,” ujar seorang peneliti literasi dari Priestley College.

Sementara itu, hasil penelitian Top Notch Research (2025), menemukan bahwa digital entertainment overload menjadi penyebab utama turunnya minat baca. Anak muda lebih memilih hiburan berbasis layar dibandingkan buku cetak.

Fenomena menurunnya minat baca di kalangan anak muda bukan sekadar perubahan kebiasaan, tetapi juga mencerminkan pergeseran budaya akibat teknologi digital.

Jika tren ini terus berlanjut, dikhawatirkan generasi mendatang akan kehilangan kemampuan literasi mendalam yang penting untuk pendidikan dan kehidupan sosial. (*)

TEMANISHA.COM