TOPMEDIA – Perang yang terjadi di Timur Tengah menjadi persoalan bagi bangsa lain, terutama yang terdampak dari akses energi. Namun, itu berbanding terbalik dengan negerinya Lionel Messi ini.
Presiden Argentina, Javier Milei, menilai konflik yang melibatkan Iran justru membawa dampak positif bagi perekonomian negaranya.
Milei menyebut perang tersebut justru berpotensi meningkatkan ekspor energi dan komoditas pertanian Argentina sekaligus memperkuat cadangan devisa negara.
Dalam wawancara dengan stasiun radio Argentina FM NOW, sang Presiden berkata bahwa kenaikan harga komoditas global akibat konflik memberi peluang bagi negaranya sebagai eksportir.
“Argentina, dalam konteks ini, akan melihat peningkatan dalam neraca perdagangannya karena harga minyak naik, dan Argentina adalah pengekspor bersih,” ujar Milei, Rabu (11/3/2026).
Ia juga menambahkan bahwa bukan hanya minyak yang diuntungkan. “Selain itu, semua biji-bijian yang diekspor Argentina seperti kedelai, jagung, dan bunga matahari, juga mengalami kenaikan harga,” tambah Milei dari New York, AS, tempat ia tengah menghadiri agenda promosi investasi.
Konflik yang sudah berjalan sekitar 10 hari itu telah memicu lonjakan harga energi global. Harga minyak bahkan sempat menembus lebih dari US$100 (sekitar Rp1,69 juta) per barel.
Kenaikan super tajam tersebut dipicu serangan rudal Iran ke sejumlah negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat serta ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia.
Sebagai produsen minyak terbesar keempat di Amerika Latin, Argentina dinilai berada pada posisi yang diuntungkan ketika harga energi global melonjak.
Lonjakan harga minyak dapat langsung meningkatkan nilai ekspor energi negara juara piala dunia 2022 lalu, dan memperlebar surplus perdagangan.
Tak hanya sektor energi, perang juga memicu kenaikan harga komoditas pangan global. Pekan lalu, harga gandum mencapai level tertinggi dalam setahun, sementara kedelai menyentuh posisi tertinggi sejak Juni 2014.
Kenaikan ini dipicu melonjaknya biaya energi dan pupuk yang merupakan komponen penting dalam produksi pertanian.
Dengan tegas Milei mengatakan bahwa kondisi ini berpotensi membantu Argentina memperkuat cadangan devisa. Hal itu penting karena pemerintah sebelumnya menandatangani perjanjian pinjaman baru senilai US$20 miliar atau sekitar Rp338 triliun dengan Dana Moneter Internasional (IMF), yang salah satu syaratnya adalah memperbaiki posisi cadangan devisa negara.
Argentina secara struktur di sektor minyak dan gas menyumbang sekitar 13,5% dari total ekspor Argentina. Namun sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap ekspor nasional, dengan kedelai sendiri menyumbang sekitar 24,6% dari total penjualan luar negeri negara tersebut. (ton/top)



















