Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
INTERNATIONAL

Jerman Bakal PHK 50 Ribu Pekerja Perusahaan Otomotif

×

Jerman Bakal PHK 50 Ribu Pekerja Perusahaan Otomotif

Sebarkan artikel ini
Volkswagen akan melakukan PHK besar-besaran untuk efisiensi perusahaan ditengah menurunnya penjualan. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Jerman akan melakukan PHK besar-besaran. Dikabarkan, produsen mobil terbesar di Eropa, Volkswagen, mengumumkan rencana pemangkasan besar-besaran tenaga kerja setelah kinerja keuangan perusahaan merosot tajam.

Langkah ini diambil di tengah tekanan global mulai dari persaingan sengit di China hingga kebijakan tarif Amerika Serikat.

HALAL BERKAH

Dalam laporan tahunan perusahaan yang dirilis Selasa, CEO Volkswagen Oliver Blume mengatakan, sekitar 50.000 pekerjaan akan dipangkas hingga akhir dekade ini.

“Secara keseluruhan, sekitar 50.000 pekerjaan akan dipangkas hingga 2030 di seluruh Grup Volkswagen di Jerman,” tulis Blume dalam suratnya kepada para pemegang saham, Selasa (10/3/2026).

Keputusan ini menambah rencana pemangkasan yang sebelumnya sudah disepakati dengan serikat pekerja.

Di akhir 2024, Volkswagen mencapai kesepakatan untuk mengurangi sekitar 35.000 pekerjaan hingga 2030, sebagian besar di merek utama Volkswagen, sebagai bagian dari upaya efisiensi untuk menghemat biaya sekitar 15 miliar euro per tahun.

Namun, langkah terbaru pengurangan tenaga kerja akan jauh lebih besar. Blume mengatakan, tambahan pemangkasan berasal dari sejumlah unit lain di dalam grup.

Baca Juga:  Pemerintah Rumuskan Insentif Otomotif 2026, Fokus Kendaraan Ramah Lingkungan dan Konsistensi Kebijakan

Itu juga termasuk merek premium Audi dan Porsche, serta anak usaha perangkat lunak Volkswagen, Cariad.

Laba Anjlok Tajam

Pengumuman itu muncul setelah kinerja keuangan Volkswagen mengalami penurunan signifikan. Perusahaan melaporkan laba setelah pajak anjlok sekitar 44% pada tahun lalu.

Total laba bersih Volkswagen tercatat sebesar 6,9 miliar euro atau sekitar US$8 miliar, yang merupakan level terendah sejak 2016.

Tahun itu sebelumnya menjadi titik terendah bagi Volkswagen setelah perusahaan harus menanggung miliaran euro biaya sekali jalan akibat penarikan kendaraan dan persoalan hukum terkait skandal manipulasi uji emisi diesel.

Sejumlah faktor diduga memicu penurunan kinerja, mulai dari tarif Amerika Serikat, persaingan yang semakin ketat di pasar China, hingga biaya besar yang dikeluarkan untuk restrukturisasi produsen mobil sport Porsche.

Tekanan dari Pasar Global

Sebelum kebijakan tarif diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap produsen mobil non-Amerika tahun lalu, Volkswagen sebenarnya sudah menghadapi sejumlah tekanan besar.

Baca Juga:  AS Tangguhkan Visa Imigran dari 75 Negara, Asia Tenggara Terdampak

Sebagai produsen mobil terbesar di Eropa mereka harus menghadapi permintaan yang stagnan di pasar Eropa.

Ditambah biaya super besar untuk investasi kendaraan listrik, meskipun permintaannya belum stabil, serta penurunan penjualan.

Di China selama ini merupakan pasar otomotif terbesar dan pertumbuhan di dunia sekaligus salah satu sumber pertumbuhan utama Volkswagen.

Namun, perusahaan otomotif Jerman kini mulai tergerus oleh produsen lokal di China. Penjualan Volkswagen di China kini tertinggal dari sejumlah rival domestik seperti BYD dan Geely, produk ini semakin agresif dalam memasarkan kendaraan listrik.

Kondisi ini memaksa manajemen Volkswagen menilai perusahaan harus melakukan penghematan yang agresif untuk meningkatkan daya saing.

Kepala keuangan Volkswagen Arno Antlitz sudah memperingatkan bahwa tingkat margin laba perusahaan saat ini belum memadai untuk jangka panjang. “Margin laba grup tidak cukup dalam jangka panjang,” kata Antlitz.

Baca Juga:  Amerika Dilanda Badai Dingin, 13.000 Penerbangan Dibatalkan

Ia menambahkan bahwa langkah pengurangan biaya akan terus dilakukan dalam waktu dekat. “Kami hanya dapat mewujudkan hal ini jika kami terus secara tegas menekan biaya. Itulah yang akan menjadi fokus kami dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Prospek Laba

Di tahun 2026, Volkswagen memperkirakan margin laba inti hanya berada di kisaran 4% hingga 5,5%.

Angka tersebut berpotensi lebih rendah dari margin 4,6% yang dicapai perusahaan tahun ini setelah disesuaikan dengan berbagai biaya sekali jalan, termasuk restrukturisasi dan keputusan Porsche untuk kembali memperpanjang produksi mobil berbahan bakar bensin.

Pada September tahun lalu, Volkswagen telah memperingatkan bahwa perusahaan bisa menghadapi beban biaya hingga 5,1 miliar euro.

Kemudian Porsche memangkas target laba jangka menengahnya dan memutuskan akan tetap menjual kendaraan bermesin bensin lebih lama dari rencana sebelumnya.

Keputusan tersebut diambil karena permintaan terhadap kendaraan listrik Porsche dinilai masih belum sekuat yang diharapkan. (*)

TEMANISHA.COM