Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP FIGURES

Jejak Karier Rizki Candra di UC Venture: Menata Ekosistem Startup Kampus sebagai Inkubator Bisnis

×

Jejak Karier Rizki Candra di UC Venture: Menata Ekosistem Startup Kampus sebagai Inkubator Bisnis

Sebarkan artikel ini
Rizki Candra Kusuma, SA., MM., Section Head Universitas Ciputra Venture (UCV). (Foto: Istimewa)
toplegal

PERJALANAN hidup Rizki Candra Kusuma dimulai dari sebuah kesempatan yang tidak banyak dimiliki orang lain. Ia menjadi salah satu yang pertama bisa masuk dan berkarier di lingkungan Universitas Ciputra (UC). Sejak awal, ia tidak hanya berperan sebagai akademisi, tetapi juga terlibat aktif dalam membangun ekosistem bisnis digital dan perusahaan Information Technology (IT).

Tahun 2016 menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia resmi bergabung dalam lingkungan UC, dimana saat itu Rizki menjadi mahasiswa S2. 

HALAL BERKAH

“Kalau bicara soal pendidikan, sebenarnya saya sudah menempuh sarjana di dua universitas. Di ITS, saya ambil S1 Elektro, dan di Unair, program Akuntansi Komputer. Nah, menjalani keduanya rupanya tidak mudah, butuh effort, akhirnya yang di Unair yang saya tekuni. Hingga akhirnya saya melanjutkan di Pasca UC,” ungkapnya mengawali cerita. 

Selesai melanjutkan S2-nya, ia terpilih untuk mengajar mahasiswa S1 serta mengembangkan EIR (Enterpreneur In Residence) atau dosen praktisi. Dari sinilah semuanya berubah. 

“Saat itu masih ada aturan bahwa dosen bisa S2, dan saya mendapat kepercayaan dari Pak Tedy (Tedy Saputra, dosen UC, Red) untuk mengembangkan bisnis,” lanjut Rizki. 

Ia pun menjadi pengajar di almamaternya tersebut dengan penuh semangat dan keyakinan. 

Keberuntungan Tak Terduga

Seiring berjalannya waktu, tawaran untuk pengembangan bisnis rupanya semakin serius. Pada 2021, dikembangkanlah UC Venture. Saat itu, Rizki diminta bergabung. “Venture ini merupakan program di bawah WR (Wakil Rektor) 1. Tujuan pengembangannya untuk menaungi para enterpreneur pemula,” jelasnya. 

Kegigihannya ikut serta mengembangkan venture rupanya memberikan kesan tersendiri. Ia menemukan karakter dan arah perjuangan yang sesungguhnya. Bukan sekadar bekerja, tetapi membangun sesuatu yang memiliki dampak. 

Baca Juga:  Dari Aktivis Kampus ke Dekan Termuda FH UMS: Kepemimpinan Empatik Satria Unggul Wicaksana

Pada masa-masa awal, tim yang dibangunnya sangat kecil. Namun dari tim kecil itulah, perlahan lahir berbagai inisiatif bisnis dan pendampingan untuk pelaku usaha pemula.

Rizki memaparkan bahwa ada dua arus besar di UC yang berjalan beriringan, yakni pendidikan dan praktik bisnis. Ia mengambil peran di tengah-tengah, menaungi sekaligus membimbing para pemula yang ingin merintis usaha. Fokusnya bukan hanya teori, tetapi bagaimana bisnis benar-benar bisa dijalankan dan bertumbuh.

Perkembangan signifikan mulai terasa dalam kurun 2024. Saat itu, section head yang dipimpin Febe Yuanita harus berakhir karena kembali ke home base ke SBM (Shcool Base Management). Tanpa diduga, Rizki mendapatkan kepercayaan untuk menggantikannya.

Rizki kerap membagikan ilmunya lewat media sosial, sebagai coach dan praktisi.

Menjabat section head tentu bukan hal mudah. Namun, Rizki bisa membuktikan bahwa meski tergolong masih muda, gebrakan-gebrakan yang dilakukannya sangat berdampak. 

“Selalu ada tantangan, tetapi itu bukan penghalang untuk terus mengembangkan program-program kami,” tegas laki-laki yang memiliki passion di dunia teknologi sejak kecil ini. 

Program yang dibangun semakin matang, jejaring semakin luas, dan indikator keberhasilan pun mulai terlihat nyata. Bukan hanya dari sisi pertumbuhan bisnis yang didampingi, tetapi juga dari berbagai penghargaan yang berhasil diraih. 

Meski begitu, ia lebih menekankan dampak dibanding sekadar trofi. Baginya, indikator utama adalah keberlanjutan usaha para binaan.

Tentang Venture

Program Venture yang tengah dikembangkan saat ini dirancang sebagai wadah terbuka bagi siapa saja yang ingin membangun dan mengembangkan usaha. Pesertanya tidak hanya mahasiswa, tetapi juga dari berbagai latar belakang. Ada yang masih berstatus mahasiswa aktif, ada pula staf, bahkan individu umum yang memiliki minat membangun bisnis.

Baca Juga:  Entrepreneurship Bukan Hanya Jualan atau Berbisnis, tapi Menciptakan Nilai dan Solusi

Menariknya, program ini tidak membatasi latar belakang secara kaku. Siapa pun dapat bergabung selama masih memenuhi kriteria yang ditentukan. 

Bahkan dari sisi biaya, program Venture tidak memungut bayaran alias gratis. Peserta bebas memanfaatkan fasilitas dan pendampingan yang ada untuk mengembangkan ide usaha, apa pun bidangnya.

Saat ini jumlah pesertanya memang belum terlalu banyak. Namun, sebagian dari mereka sudah memiliki usaha sendiri, meski masih dalam tahap awal. 

Ada yang baru sebatas konsep, ada juga yang sudah mulai berjalan dengan skala kecil. Venture hadir untuk membantu mereka memperkuat fondasi bisnis agar bisa tumbuh lebih terarah.

Tujuan jangka panjang dari venture tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya para calon pengusaha, tetapi ingin menciptakan ekosistem yang mampu melahirkan bisnis berkelanjutan. 

“Harapannya, para peserta tidak hanya memiliki usaha, tetapi juga mampu mengelolanya secara profesional dan berkembang dalam jangka panjang,” urai laki-laki yang memiliki bisnis di bidang digital ini. 

Untuk memastikan perkembangan bisnis para peserta tetap terpantau, Venture menyediakan sistem pendampingan. Dalam kurun waktu tertentu, mereka mendapatkan mentoring dan evaluasi berkala. 

Proses ini bertujuan agar setiap usaha yang dirintis bisa terus dipantau progresnya, diidentifikasi tantangannya, serta diberikan arahan yang tepat agar dapat naik ke tahap berikutnya.

“Dengan konsep pendampingan berkelanjutan inilah, Venture ingin menjadi ruang tumbuh yang bukan hanya memantik semangat berwirausaha, tetapi juga memastikan setiap langkah bisnis peserta berjalan lebih matang dan terukur.

Baca Juga:  Victoria Mboko dan Naomi Osaka Mundur dari Cincinnati Open Usai Final di Montreal

Venture sendiri sudah sering mendapat penghargaan dari AIBI (Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia) yang diselenggarakan berkala. Bahkan hingga saat ini sudah tercatat sekitar 200 jenis bisnis dengan pendampingan sesuai bidangnya. Tentu saja pencapaian ini semakin membuat Rizki yakin dengan upaya-upaya yang dilakukannya.

Pilih Prioritas dengan Baik 

Di tengah kesibukan sebagai akademisi dan pengembang ekosistem bisnis, ia juga dikenal sebagai founder di bidang digital marketing. Perjalanan menuju titik itu bukan tanpa alasan. Ia mengaku ada kegelisahan pribadi yang mendorongnya.

Ia melihat peluang besar di ranah digital, sekaligus merasa tertantang untuk membuktikan bahwa akademisi pun bisa menjadi praktisi.

Perusahaan teknologi yang ia bangun sempat berjalan dan berkembang. Namun, ia tahu bahwa dalam dinamika bisnis, tidak semua hal berjalan sesuai rencana. “Sekarang sudah tutup perusahaannya,” katanya. 

Meski demikian, langkah itu bukan akhir. Ia tetap aktif melakukan instalasi web commerce dan pembaruan aplikasi yang sudah ada menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang terus berubah.

Baginya, perjalanan karier bukan soal mempertahankan entitas bisnis selamanya, melainkan tentang kemampuan beradaptasi dan terus menciptakan nilai. Dari ruang kelas ke ruang server, dari mendampingi mahasiswa hingga membangun aplikasi, ia menjalani semuanya dengan satu benang merah: membangun dan memberi dampak.

Kisahnya menjadi gambaran bahwa bernai memulai, ketekunan membina, dan kesiapan menghadapi kegagalan merupakan bagian dari perjalanan menuju pencapaian. Bagi Rizki, kebermanfaatannya bagi lingkungan sekitar merupakan tujuan hidupnya. (Ayunda)

TEMANISHA.COM