Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
EDUTECH

Jawab Tantangan AI dan Disrupsi Teknologi, Universitas Ciputra Bentuk Dewan Industri Kreatif

×

Jawab Tantangan AI dan Disrupsi Teknologi, Universitas Ciputra Bentuk Dewan Industri Kreatif

Sebarkan artikel ini
Universitas Ciputra melantik Industrial Advisory Board untuk memperkuat sinergi akademik dan industri kreatif dalam kegiatan Industrial Gathering 2026. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI) yang mengubah lanskap industri kreatif, Universitas Ciputra mengambil langkah strategis dengan membangun ekosistem kolaboratif antara dunia akademik dan industri.

Melalui Industrial Gathering 2026, School of Creative Industry (SCI) Universitas Ciputra (UC) Surabaya resmi melantik Industrial Advisory Board sebagai mitra strategis dalam pengembangan pendidikan berbasis kebutuhan industri.

HALAL BERKAH

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Dekranasda Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak, serta Adyatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Ekonomi Kreatif Yanuar Arief.

Kehadiran unsur pemerintah mempertegas pentingnya sinergi antara pendidikan tinggi dan industri dalam memperkuat daya saing ekonomi kreatif nasional.

Baca Juga:  Siap-siap Upgrade HP Baru , Ini 5 Fitur yang Wajib Ada di HP Android Generasi 2026

Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Prof Wirawan ED Radianto, menegaskan perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri menghadapi perubahan industri yang sangat cepat.

“Kreativitas hari ini tidak cukup hanya inovatif, tetapi harus relevan dan berdampak. Kolaborasi konkret dengan industri menjadi kunci agar lulusan mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi, termasuk perkembangan AI yang kini memengaruhi proses desain dan produksi kreatif,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).

Dean School of Creative Industry, Susan, menambahkan paradigma pendidikan desain perlu diredefinisi.

“Desain tidak boleh berhenti pada keindahan visual. Apa yang dikerjakan mahasiswa harus memiliki hilirisasi yang jelas, punya nilai ekonomi, relevan dengan kebutuhan industri, dan memberikan dampak nyata,” jelasnya.

Baca Juga:  Bukan Ancaman Tenaga Kerja, AI Justru Buka Peluang Ekonomi

Menurut Susan, SCI mendorong terbentuknya ekosistem kolaboratif yang menyatukan industri, akademisi, dan mahasiswa dalam satu ruang kreatif produktif.

Mahasiswa diarahkan untuk berpikir melampaui art dengan pendekatan problem solving, inovasi, dan pemanfaatan teknologi.

“Kami ingin mahasiswa memiliki mindset terbuka. Ketika mereka mendesain, mereka tidak berhenti pada karya estetik, tetapi mampu menemukan sisi entrepreneurial-nya, memahami potensi ekonominya, serta memastikan desain tersebut berdampak bagi masyarakat dan lingkungan,” tuturnya.

Pelantikan Industrial Advisory Board menjadi momentum penting. Dewan yang terdiri dari praktisi dan pemimpin industri kreatif akan berperan memberikan masukan terhadap kurikulum berbasis kebutuhan industri, mendorong proyek kolaboratif, riset terapan, hingga mengawal program magang dan inkubasi bisnis kreatif.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Hadiri KTT APEC 2025 di Korea Selatan, Tegaskan Komitmen Ekonomi Inklusif Asia-Pasifik

Langkah Universitas Ciputra membentuk Industrial Advisory Board menjadi respons konkret terhadap kebutuhan industri akan talenta kreatif yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan teknologi dan dinamika pasar global.

“Di tengah tantangan transformasi digital, model kolaborasi ini diharapkan menjadi katalis lahirnya talenta kreatif Indonesia yang tidak hanya unggul secara estetika, tetapi juga kuat secara ekonomi dan berdampak luas bagi pembangunan bangsa,” pungkas Prof Wirawan. (*)

TEMANISHA.COM