Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Jawa Timur Miliki Potensi Perikanan Strategis, Kontribusi Capai Rp 67,7 Triliun

×

Jawa Timur Miliki Potensi Perikanan Strategis, Kontribusi Capai Rp 67,7 Triliun

Sebarkan artikel ini
Budidaya perikanan di Pulau Gili, Ketapang, Jawa Timur. (Foto: Detik.com)
toplegal

TOPMEDIA – Provinsi Jawa Timur dinilai memiliki potensi perikanan paling strategis di Indonesia berkat kondisi geografis yang beragam, mulai dari pesisir selatan yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, pesisir utara yang menghadap Laut Jawa, kawasan Selat Madura dan Selat Bali, hingga wilayah kepulauan seperti Kepulauan Kangean.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Zulkipli mengatakan, kekayaan sumber daya perikanan tersebut menjadikan subsektor perikanan berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan, penyediaan lapangan kerja, serta mendorong pergerakan ekonomi daerah.

HALAL BERKAH

Produk perikanan Jawa Timur tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir, tetapi juga menjadi komoditas lintas wilayah serta bahan baku industri untuk pasar domestik maupun ekspor.

Secara ekonomi, subsektor perikanan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Jawa Timur.

Baca Juga:  Bank Indonesia Pertahankan BI Rate 4,75% di Desember 2025, Fokus Jaga Stabilitas Rupiah

“Pada tahun 2024, kontribusi subsektor perikanan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 2,14 persen atau setara Rp 67 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp 54 triliun,” ujar Zulkipli.

Meski Jawa Timur memiliki banyak Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), volume penangkapan ikan per hari masih kalah dibandingkan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).

Namun, aktivitas pendaratan ikan juga tercatat cukup tinggi di Pelabuhan Perikanan Tanpa Kelas (PP).
Data BPS menunjukkan, pada tahun 2024 rata-rata volume penangkapan ikan yang didaratkan di pelabuhan per hari pada triwulan I hingga IV masing-masing sebesar 476,8 ton, 430,72 ton, 440,43 ton, dan 702,08 ton.

Baca Juga:  Agustus 2025, Cadangan Devisa Indonesia Turun jadi USD 150,7 Miliar

Terjadi penurunan pada triwulan II sebesar 9,66 persen dibanding triwulan I, namun pada triwulan III dan IV terjadi peningkatan masing-masing 2,25 persen dan 59,41 persen.

Lonjakan signifikan pada triwulan IV dipengaruhi musim hujan yang menyebabkan ikan banyak menepi ke perairan dangkal, sehingga nelayan dengan kapal kecil di bawah 5 GT mengalami peningkatan hasil tangkapan.

Dari sisi armada, kapal motor berukuran kurang dari atau sama dengan 5 GT masih mendominasi aktivitas penangkapan ikan harian.

Rata-rata jumlah kapal jenis ini mencapai 188 kapal di PPN, 446 kapal di PPP, dan 82 kapal di PPI setiap hari.

“Selain itu, kapal motor berukuran 21–50 GT juga cukup banyak digunakan, khususnya di PPN dengan rata-rata 354 kapal per hari,” jelas Zulkipli.

Baca Juga:  Kementerian Lingkungan Hidup Gugat Tiga Perusahaan Penyebab Bencana Sumatera, Minta Ganti Rugi Rp390 M

Selama 2024, nelayan Jawa Timur menangkap beragam jenis ikan yang digolongkan ke dalam 34 kelompok, mulai dari ikan layang hingga cumi-cumi.

Namun, data produksi yang tercatat merupakan hasil tangkapan yang dijual melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI), sehingga hasil tangkapan riil di laut diperkirakan lebih besar dari yang tercatat secara resmi.

Dengan nilai PDRB mencapai Rp 67,7 triliun pada 2024, subsektor ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan dan lapangan kerja, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi Jawa Timur di tingkat nasional maupun internasional.

“Peningkatan nilai tambah subsektor perikanan mencerminkan potensi yang terus berkembang dan berperan dalam memperkuat daya saing ekonomi daerah,” pungkas Zulkipli. (*)

TEMANISHA.COM