TOPMEDIA – Memiliki PC atau laptop dengan performa kencang memang jadi dambaan, apalagi buat kamu yang hobi mabar atau sering bergelut dengan aplikasi desain yang berat. Namun, pernah nggak sih merasakan suhu perangkat tiba-tiba naik drastis, padahal kipas sudah berputar kencang seperti mesin jet? Itu tandanya ada sesuatu yang nggak beres di balik heatsink kamu.
Banyak pengguna yang sering mengabaikan satu elemen krusial bernama thermal paste. Padahal, cairan kental ini adalah jembatan utama untuk mengalirkan panas dari prosesor ke sistem pendingin. Kalau sudah kering, performa pasti bakal terjun bebas. Biar nggak bingung, yuk simak jawaban lengkap tentang berapa tahun sekali kita harus repaste CPU agar perangkat kesayangan tetap adem.
Durasi Ideal Berdasarkan Intensitas Penggunaan
Secara umum, para teknisi dan antusias perangkat keras menyarankan untuk melakukan repaste CPU setiap 2 hingga 3 tahun sekali. Angka ini adalah jalan tengah bagi pengguna harian yang memakai perangkat untuk tugas-tugas standar seperti mengerjakan tugas, browsing, atau menonton film. Dalam rentang waktu ini, tekstur thermal paste biasanya masih cukup lembap untuk menghantarkan panas secara efektif.
Namun, kondisinya akan berbeda jika kamu adalah seorang hardcore gamer atau editor video yang memaksa CPU bekerja keras setiap hari. Suhu tinggi yang konsisten akan membuat thermal paste lebih cepat mengeras dan kehilangan elastisitasnya. Untuk kategori penggunaan berat seperti ini, melakukan repaste setiap 1 tahun sekali sangat disarankan guna menjaga stabilitas suhu tetap di angka aman.
Mengenali Tanda-Tanda Thermal Paste Sudah Kering
Selain patokan waktu, kamu juga harus peka terhadap “curhatan” perangkatmu sendiri. Tanda paling nyata adalah ketika kamu mendapati suhu CPU sering menyentuh angka di atas 80-90 derajat Celcius meski beban kerja tidak terlalu berat. Fenomena ini sering dibarengi dengan suara kipas yang sangat bising karena berusaha keras mendinginkan suhu yang sebenarnya sudah tidak terhantar dengan baik akibat pasta yang mengering.
Efek lanjutannya adalah thermal throttling, di mana sistem secara otomatis menurunkan kecepatan prosesor untuk mencegah kerusakan akibat panas berlebih. Jika laptop atau PC kamu mulai terasa sering lag atau patah-patah saat melakukan aktivitas yang biasanya lancar, itu adalah sinyal kuat bahwa kamu harus segera membongkar dan mengoleskan pasta baru tanpa harus menunggu hitungan tahun.
Kualitas Pasta Menentukan Masa Pakai
Hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah kualitas dari merek thermal paste yang kamu gunakan. Produk bawaan pabrik terkadang memiliki kualitas yang standar dan cenderung lebih cepat kering dibandingkan produk aftermarket kelas premium. Menggunakan pasta berkualitas tinggi dengan konduktivitas termal yang baik tidak hanya menurunkan suhu lebih drastis, tapi juga memiliki daya tahan yang lebih lama hingga 5 tahun ke atas.
Memilih pasta yang tepat adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan CPU kamu. Pastikan kamu memilih produk yang sudah terpercaya di kalangan komunitas builder PC. Dengan kombinasi pasta yang bagus dan perawatan yang rutin, kamu bisa memastikan bahwa komponen mahal di dalam perangkatmu tidak terpanggang sia-sia hanya karena masalah sepele seperti cairan pendingin yang mengeras.
Melakukan repaste mungkin terlihat teknis, tapi manfaatnya sangat besar untuk memperpanjang usia pakai perangkat kesayanganmu. Jadi, daripada nunggu laptop kamu mogok pas lagi sayang-sayangnya, lebih baik luangkan waktu sejenak untuk cek suhunya sekarang juga. (res)



















