TOPMEDIA – Iran menegaskan komitmennya menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan Amerika Serikat (AS) maupun Israel.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan hal ini dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Senin (23/3/2026).
“Iran telah mengambil langkah untuk memastikan keamanan pelayaran lewat jalur air ini dan akan melakukan koordinasi yang diperlukan bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan pihak agresor,” ujar Pezeshkian, dikutip dari kantor kepresidenan.
Blokade de facto Selat Hormuz terjadi setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut menewaskan warga sipil dan memicu balasan Iran ke wilayah Israel serta target militer AS di Timur Tengah.
Perwakilan tetap Iran untuk Organisasi Maritim Internasional (IMO), Ali Mousavi, menegaskan bahwa semua kapal tetap bisa melintas Selat Hormuz asalkan berkoordinasi dengan Iran.
“Semua kapal, kecuali kapal musuh, dapat melintasi Selat Hormuz dengan koordinasi,” katanya.
Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar internasional.
Gangguan akibat eskalasi konflik telah memengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas energi global.
Presiden Pezeshkian menekankan bahwa langkah Iran bukan hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga untuk menjaga kelancaran perdagangan dunia.
“Apa yang terjadi di Selat Hormuz berdampak pada seluruh pasar global. Iran akan memastikan kapal yang tidak berafiliasi dengan pihak agresor tetap aman,” tegasnya.
Meski eskalasi konflik masih berlangsung, Iran berusaha menegaskan peran sebagai pengendali jalur vital energi global. (*)



















