TOPMEDIA – Intimidasi terhadap awak media di pertandingan BRI Super League akhirnya diserahkan langsung oleh manajemen Malut United ke Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Pelaku diduga merupakan oknum ofisial klub.
Intimidasi dilakukan terhadap wartawan, Irwan Djailani, seusai laga pekan ke-25 Super League antara Malut United Vs PSM Makassar.
Irwan yang merupakan wartawan RRI diminta menghapus video yang merekam pemukulan terhadap wasit Thoriq Munir Alkatiri di Gelora Kie Raha, Ternate, Sabtu (7/3/2026).
Awalnya, Irwan hanya diminta untuk kooperatif tidak mempublikasikan insiden tersebut. Karena menolak, Irwan kemudian diusir untuk meninggalkan stadion.
Aksi tersebut mendapat kecaman keras. PSSI Pers, Siwo PWI Pusat, dan PSSI mengutuk tindakan yang dianggap menghalang-halangi kerja wartawan tersebut.
Oknum ofisial klub dan pemilik klub kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian oleh kantor RRI, tempat Irwan bekerja. Sementara pihak Malut menyerahkan kasus ini ke Komdis PSSI.
“Perihal pelaporan ini sedang dibahas oleh tim di Ternate,” tulis pernyataan manajemen klub di forum wartawan, Senin (9/3).
“Lalu, terkait pihak yang ada dalam video ini, tim menyerahkan kepada Komite Disiplin.”
Kasus ini diawali oleh pihak Malut United yang merasa dirugikan atas kepemimpinan wasit Thariq. Salah satunya gol David da Silva tidak disahkan di ujung laga, setelah ditinjau melalui Video Assistant Referee (VAR). Sehingga, skor berakhir imbang 3-3.
Di tunnel stadion, terlihat wasit Alkatiri menerima pukulan dan lemparan dari atas tribun. Kemudian wartawan Irwan melakukan perekaman. Saat merekam itulah, Irwan kemudian didatangi oknum official klub untuk tidak mempublikasikan rekaman tersebut. (*)



















