Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Intermittent Fasting Tak Selalu Cocok untuk Perempuan, Ini Alasannya

×

Intermittent Fasting Tak Selalu Cocok untuk Perempuan, Ini Alasannya

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Intermittent fasting semakin digemari karena dinilai membantu menurunkan berat badan dan memperbaiki metabolisme tubuh. Namun, bagi perempuan, metode ini sering menimbulkan kekhawatiran, terutama soal keseimbangan hormon. Tidak sedikit yang mengaku mengalami perubahan siklus menstruasi, penurunan energi, hingga suasana hati yang tidak stabil setelah mencoba pola makan ini.

Pada dasarnya, intermittent fasting bukan tentang membatasi jenis makanan, melainkan mengatur waktu makan. Pola ini membagi hari menjadi waktu puasa dan waktu makan. Contohnya metode 16:8 (puasa 16 jam, makan 8 jam), atau versi yang lebih ringan seperti 14:10 dan 12:12. Saat jendela makan, tubuh tetap membutuhkan asupan seimbang yang mencakup protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta serat, bukan sekadar mengurangi jumlah kalori.

HALAL BERKAH

“Intermittent fasting tetap bisa bermanfaat untuk perempuan, asalkan dilakukan dengan cara yang lebih bijak,” kata Julia Zumpano, ahli gizi asal Amerika Serikat.

Baca Juga:  Angkat Hasil Riset, Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya Tampilkan Warisan Ulos Batak

Mengapa Tubuh Perempuan Lebih Sensitif?

Tubuh perempuan dikendalikan oleh sistem hormon yang kompleks. Estrogen dan progesteron berperan penting dalam mengatur siklus haid, ovulasi, tingkat energi, hingga suasana hati. Saat asupan energi dibatasi terlalu ketat, tubuh bisa menganggapnya sebagai kondisi stres atau kekurangan nutrisi.

Akibatnya, tubuh akan mengurangi fungsi yang dianggap tidak mendesak, termasuk sistem reproduksi. Inilah sebabnya beberapa perempuan yang menjalani puasa ekstrem mengalami haid tidak teratur, cepat lelah, perubahan mood, hingga sulit tidur. Gejala-gejala ini sering muncul perlahan dan kerap tidak langsung dikaitkan dengan pola makan.

Dampak Puasa pada Hormon Perempuan

Pada perempuan usia subur dan pra-menopause, puasa dalam waktu lama berpotensi mengganggu keseimbangan hormon. Penurunan kadar estrogen dan progesteron bisa memicu masalah seperti kulit kering, rambut rontok, jerawat, hingga menurunnya gairah seksual. Dalam kasus tertentu, ovulasi juga dapat terganggu.

Baca Juga:  Awas! Minuman Bersoda Dan Manis Sasaran Cardiovascular

Sementara itu, perempuan pascamenopause cenderung memiliki kondisi hormon yang lebih stabil. Karena siklus haid dan ovulasi sudah tidak aktif, intermittent fasting umumnya lebih aman dilakukan. Meski begitu, kondisi tubuh tetap perlu dipantau, terutama jika muncul keluhan seperti kelelahan berlebihan atau gangguan tidur.

Tips Aman Menjalani Intermittent Fasting

Bagi perempuan yang ingin mencoba intermittent fasting, sebaiknya lakukan secara bertahap. Mulailah dengan puasa ringan, misalnya 12 jam semalam, agar tubuh punya waktu beradaptasi. Jika respons tubuh baik, durasi puasa bisa ditambah perlahan.

Selain durasi, waktu pelaksanaan juga penting. Fase menjelang menstruasi sebaiknya dihindari karena tubuh lebih rentan terhadap stres. Saat berbuka, pilih makanan berkualitas yang mengandung protein, serat, dan lemak sehat agar energi tetap stabil dan kadar gula darah tidak naik drastis. (*)

TEMANISHA.COM