TOPMEDIA – Cangkang telur selama ini dianggap sebagai limbah tak bernilai. Namun, ditangan Tim peneliti Program Studi Teknologi Pangan Universitas Ciputra (UC) Surabaya, limbah ini diubah menjadi produk berdaya guna tinggi.
Membran tipis cangkang telur berhasil diolah menjadi kolagen halal yang berpotensi besar untuk berbagai sektor industri.
Ketua Tim Peneliti, Joko Sulistyo, menegaskan bahwa potensi ini belum banyak digarap di Indonesia.
“Limbah cangkang telur sangat mudah ditemukan. Setelah diteliti, ternyata mengandung kolagen egg shell membrane (ESM) yang manfaatnya luar biasa dan dapat menjadi alternatif pengganti kolagen impor,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).
Penelitian ini melibatkan dosen, mahasiswa, dan laboran Teknologi Pangan UC Surabaya. Joko menjelaskan, kolagen dari membran cangkang telur memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku, biaya produksi yang lebih terjangkau, hingga aspek kehalalan yang jelas.
“Kolagen ini tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk bahan pangan, tetapi juga berpotensi digunakan di bidang farmasi, kosmetik, suplemen kesehatan, bahkan aplikasi medis,” tambahnya.
Proses Produksi Kolagen
Mahasiswa UC Surabaya, Belinda Manuela Angkadjaja, memaparkan tahapan pembuatan kolagen.
Proses dimulai dengan perendaman dan pembersihan cangkang telur, dilanjutkan pemisahan membran dari bagian keras.
“Membran yang sudah dipisahkan kemudian dicuci bersih, dikeringkan di oven selama dua jam pada suhu sekitar 40 derajat Celsius, lalu diblender hingga halus,” jelas Belinda.
Tahapan berikutnya adalah ekstraksi menggunakan larutan buffer dan enzim pepsin, yang didiamkan selama satu hingga dua malam.
Endapan hasil ekstraksi kemudian dikeringkan pada suhu dingin minus 40 hingga minus 50 derajat Celsius selama tiga hari, hingga menjadi kolagen kering siap olah. Dari proses tersebut, sekitar 20 persen kolagen dapat dihasilkan dari total bahan baku.
Selain membran, bagian cangkang keras juga dimanfaatkan menjadi bubuk kaya kalsium. “Bubuk kalsium ini bisa digunakan sebagai bahan penguat bioplastik ramah lingkungan agar lebih kokoh,” tambah Belinda.
Potensi Komersial
Saat ini, tim peneliti UC Surabaya telah menjalin komunikasi dengan industri kosmetik yang tertarik memanfaatkan kolagen ESM sebagai bahan baku produk perawatan kulit.
Rencana kerja sama teknis ditargetkan mulai berjalan pada 2026, seiring masuknya riset ini ke tahap pengembangan komersial. (*)



















