Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Ini Kekhawatiran BI Jatim Terhadap Dampak Konflik Timur Tengah

×

Ini Kekhawatiran BI Jatim Terhadap Dampak Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Ancaman harga energi dan fragmentasi perdagangan menjadi bayang-bayang dampak konflik Timur Tengah. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Konflik di Timur Tengah memang menimbulkan kekhawatiran bagi semua sektor. Terganggunya keamanan hingga arus logistik menjadi imbas yang harus ditanggung dalam sektor ekonomi, perdagangan, dan industri. Ketegangan deopolitik tersebut membawa potensi risiko ekonomi global.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Ibrahim menegaskan bahwa dunia, termasuk Indonesia, memiliki kemampuan adaptasi yang kuat untuk meredam dampaknya.

HALAL BERKAH

Dalam analisis ekonomi, Ibrahim menjelaskan terdapat tiga skenario risiko: baseline scenario, potential risk, dan tail risk.

Tail risk kemungkinan terjadinya sangat kecil, tetapi ketika itu terjadi, dampaknya akan sangat signifikan. Kita tidak bisa mengabaikan potensi tersebut,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).

Ibrahim menekankan bahwa dampak konflik geopolitik tidak selalu terasa langsung, melainkan lebih besar melalui jalur perdagangan, komoditas, dan sektor finansial.

Baca Juga:  Stok Beras Jawa Timur Tembus 1 Juta Ton, BULOG Siaga Serap Panen Lebaran

“Dampak langsung mungkin kecil, tetapi impact tidak langsung yang perlu kita kalkulasi, terutama melalui jalur perdagangan, komoditas, dan finansial,” tegasnya.

Ia juga menyinggung fenomena fragmentasi perdagangan global, di mana negara-negara cenderung mengamankan pasokan dalam negeri dengan membatasi ekspor.

“Fragmentasi itu ketika negara-negara mengamankan pasokannya masing-masing. Ini yang perlu kita pahami karena bisa memengaruhi rantai pasok global,” jelasnya.

Meski ada tekanan, Ibrahim menilai Indonesia memiliki peluang untuk tetap bertahan. Struktur impor yang terdiversifikasi membuat pasokan relatif aman meski harga berpotensi naik.

“Harga mungkin meningkat, tetapi pasokan relatif aman. Yang berbahaya itu kalau harga naik tapi barang kosong,” katanya.

Konsumsi Domestik sebagai Bantalan

Baca Juga:  Transaksi UMKM Bisa Ekspor Tembus Rp 2,23 Triliun, Optimistis Lampaui Target 2025

Ibrahim menekankan bahwa kekuatan konsumsi domestik menjadi bantalan penting bagi ekonomi nasional dan Jawa Timur.

“Kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 60 persen menjadi buffer ketika ada tekanan eksternal,” ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi kenaikan harga energi global, termasuk minyak dan gas, yang bisa berdampak pada sektor turunan seperti pupuk, plastik, dan industri kimia.

“Sekitar 70 persen bahan baku ammonia berasal dari gas. Jadi wajar jika ada potensi gangguan pada produk turunannya seperti pupuk dan plastik,” jelasnya.

Untuk menjaga stabilitas, BI bersama otoritas terkait menyiapkan langkah kebijakan, termasuk menjaga nilai tukar, memperkuat sistem keuangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui dukungan pembiayaan dan inovasi.

Baca Juga:  Diserbu 198 Ribu Penumpang, Puncak Arus Balik di Bandara Soetta Diprediksi Dua Gelombang

“Yang paling penting adalah sinergi dan koordinasi. Dengan itu, kita bisa menjaga stabilitas dan memastikan ekonomi tetap tumbuh,” pungkas Ibrahim. (*)

TEMANISHA.COM