TOPMEDIA – Provinsi Jawa Timur kembali mencatat kenaikan harga secara tahunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, inflasi year on year (y-on-y) pada Februari 2026 mencapai 4,88 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,07.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, menyebutkan bahwa angka inflasi tersebut mencerminkan kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat.
“Pada Februari 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 4,88 persen dengan IHK 111,07,” ujar Herum di Surabaya, Selasa (3/3/2026).
Secara spasial, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep yang mencapai 6,37 persen dengan IHK 115,44. Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Gresik sebesar 3,96 persen dengan IHK 108,65.
“Perbedaan inflasi antarwilayah ini mencerminkan dinamika harga, ketersediaan pasokan, serta distribusi barang dan jasa yang berbeda di masing-masing daerah,” jelas Herum.
Kenaikan harga paling tinggi terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak hingga 20,71 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 18,59 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 3,84 persen.
Sementara itu, pakaian dan alas kaki naik 0,71 persen, perlengkapan rumah tangga naik 0,22 persen, kesehatan meningkat 2,20 persen, transportasi naik 0,87 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya naik 0,89 persen, pendidikan naik 1,88 persen, dan restoran dan penyediaan makanan naik 1,35 persen.
Satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan adalah informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun 0,28 persen.
Komoditas Penyumbang Inflasi
Secara komoditas, cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan tingkat inflasi mencapai 63,73 persen dan andil 0,23 persen.
Selain itu, emas perhiasan naik 8,26 persen dengan andil 0,20 persen, daging ayam ras naik 9,34 persen dengan kontribusi 0,17 persen, dan angkutan udara naik 3,60 persen dengan andil 0,05 persen.
Dari sisi pergerakan bulanan, inflasi month to month (m-to-m) Jawa Timur pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,95 persen.
Sementara inflasi year to date (y-to-d) atau kumulatif sejak Januari hingga Februari 2026 mencapai 0,74 persen.
Herum menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan harga, terutama komoditas pangan strategis yang berpotensi mengalami fluktuasi menjelang momentum hari besar keagamaan dan periode panen.
“Kami akan terus memantau harga pangan strategis agar tidak menimbulkan gejolak menjelang hari besar keagamaan,” tegasnya. (*)



















