TOPMEDIA – Pemerintah Indonesia meluncurkan laporan nasional eTrade Readiness Assessment (eT Ready) sebagai langkah strategis memperkuat ekosistem perdagangan digital dan e-commerce.
Laporan ini dikembangkan bersama Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) dengan dukungan Pemerintah Australia, dan diharapkan menjadi panduan berbasis bukti untuk mendorong partisipasi pelaku usaha lokal di pasar internasional.
Kajian komprehensif ini merupakan permintaan resmi Pemerintah Indonesia yang dikoordinasikan melalui Kementerian Luar Negeri.
Inisiatif tersebut bertujuan menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperluas akses pasar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hingga 2024, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD 90 miliar (Rp 1.512 triliun), menyumbang lebih dari sepertiga total ekonomi digital ASEAN.
Sebagai satu-satunya anggota G20 di Asia Tenggara, Indonesia menempatkan transformasi digital sebagai pilar utama strategi pembangunan menuju Visi Indonesia Emas 2045.
Wakil Sekretaris Jenderal UNCTAD, Pedro Manuel Moreno, memberikan apresiasi atas langkah ini. “Indonesia menunjukkan bagaimana transformasi digital dapat menjadi pendorong daya saing dan inklusi secara bersamaan. Laporan eTrade Readiness Assessment mendukung upaya pemerintah memperkuat koordinasi, memberdayakan UMKM agar dapat mengakses pasar daring, serta memastikan ekonomi digital tumbuh tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Laporan ini mencetak sejarah sebagai eTrade Readiness Assessment pertama UNCTAD di negara anggota G20, sekaligus yang pertama mengintegrasikan aspek keberlanjutan lingkungan dalam analisis ekosistem perdagangan digital.
Secara teknis, kajian mencakup koordinasi kebijakan, adopsi infrastruktur teknologi, kerangka hukum, hingga sistem pembayaran digital.
Isu lintas sektor seperti partisipasi perempuan, pemuda, penyandang disabilitas, dan masyarakat pedesaan juga menjadi fokus utama agar manfaat ekonomi digital dirasakan secara merata.
Direktur Perdagangan Internasional Kementerian Luar Negeri RI, Ditya Agung Nurdianto, menegaskan pentingnya laporan ini.
“Temuan dalam kajian ini akan membantu mengarahkan upaya Indonesia memperkuat ekosistem e-commerce dan perdagangan digital, sehingga pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya lebih cepat, tetapi juga lebih adil, aman, dan tangguh,” jelasnya.
Peluncuran laporan eT Ready menandai komitmen Indonesia dalam menghadapi tantangan logistik dan keamanan siber di masa depan. (*)



















