TOPMEDIA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperingatkan adanya potensi kenaikan harga makanan dan minuman kemasan di Indonesia. Konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak bumi diperkirakan berdampak langsung pada biaya produksi plastik sebagai bahan utama kemasan.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa sektor makanan dan minuman lebih terdampak dari sisi kemasan dibandingkan bahan produk.
“Yang banyak dan ada dampaknya di industri kami di makanan dan minuman itu adalah kemasannya. Biasanya dari plastik, dan plastik ini petroleum based,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Ia menambahkan, kenaikan biaya di industri petrokimia bisa berdampak besar pada harga produk akhir.
“Kalau di sana (IKFT) berdampak 10 persen, di kita bisa 60 persen. Kalau di sana 50 persen, di sini bisa di atas 50 persen,” jelas Putu.
Menurut Putu, produk minuman dalam kemasan, termasuk air minum dalam kemasan (AMDK), menjadi yang paling rentan mengalami kenaikan harga.
Hal ini karena distribusi AMDK biasanya tidak dilakukan dalam jumlah besar oleh distributor, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
“Karena bulky, volumenya besar, biasanya tidak disimpan dalam inventory. Jadi distribusi dilakukan sesuai kebutuhan, dan di samping itu kemasan plastik menjadi faktor utama,” terangnya.
Kemenperin berencana berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) untuk mencari langkah mitigasi.
Tujuannya adalah menekan dampak kenaikan biaya kemasan terhadap harga produk makanan dan minuman.
Meski demikian, Putu memastikan pasokan makanan dan minuman untuk kebutuhan Lebaran 2026 tetap aman. “Untuk hari Idul Fitri ini semuanya sudah terdistribusi, sudah aman. Jadi tidak usah khawatir,” tegasnya. (*)



















