TOPMEDIA – Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur menutup sementara layanan objek wisata alam bagi pengunjung.
“Balai Taman Nasional Way Kambas melakukan penutupan sementara objek wisata alam di Taman Nasional Way Kambas Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) MHD Zaidi di Bandarlampung.
Zaidi menjelaskan penutupan sementara ini akan dimulai pada Jumat. “Mulai Jumat ini ditutup sementara sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan,” katanya.
Menurut dia, keputusan ini diambil sebagai langkah strategis untuk menjaga keamanan masyarakat dan kelestarian satwa menyusul peningkatan konflik gajah liar di wilayah penyangga. Penutupan ini bertujuan agar seluruh personel dapat fokus pada mitigasi konflik di lapangan.
Meski demikian, pintu TNWK tetap terbuka bagi kegiatan pendidikan, penelitian, dan magang bagi mahasiswa atau akademisi.
“Penutupan sementara layanan wisata alam di Taman Nasional Way Kambas dilakukan dalam rangka menyikapi adanya atensi masyarakat, serta keterbatasan sumber daya manusia dalam penanganan serta penanggulangan konflik gajah liar,” ucap dia.
Menurutnya, para petugas saat ini masih fokus dalam upaya penanggulangan konflik tersebut. “Kami kekurangan personel dalam upaya penanggulangan konflik gajah liar, sehingga wisata ditutup sementara,” ujarnya.
Penutupan layanan objek wisata alam di Taman Nasional Way Kambas tertuang dalam Surat Edaran Nomor 105/T.11/TU/HMS.01.08/B/01/2026 yang diterbitkan Balai Taman Nasional Way Kambas.
Penutupan wisata TNWK dilakukan di tengah memanasnya situasi di wilayah penyangga taman nasional yang berada di Lampung Timur itu.
Sebelumnya, ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas berunjuk rasa pada Selasa, 13 Januari 2026. Mereka menggelar long march sambil membawa sejumlah poster berisi tuntutan, antara lain, “Stop Konflik Gajah dan Manusia.”
“Kami bukan memusuhi gajah, kami hanya ingin melindungi ladang kami”. Jika TNWK tidak bisa menjalankan makna konservasi, pulangkan saja gajah ke asalnya”.
Mereka juga mengusung foto almarhum Kepala Desa Braja Asri Darusman yang tewas akibat diamuk gajah liar Way Kambas saat menggiring kawanan itu ke luar lahan pertanian pada akhir Desember 2025. “Kawan-kawan, kita ke sini minta keadilan, karena tanaman pertanian kami dirusak,” ujar Budi, salah seorang orator demo, dikutip dari Antara.
Menurut orator lain, konflik satwa gajah Way Kambas dengan masyarakat desa penyangga telah berlangsung puluhan tahun dan belum berkesudahan. “Kami dari lahir, berkonflik dengan gajah. Kepala desa kami menjadi korbannya, orang tua kami menjadi korban, kami tidak ingin menjadi korban lagi,” ujarnya. (*)



















