TOPMEDIA – dalam sebulan terakhir, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan aksi jual bersih investor asing atau net foreign sell mencapai Rp 23,34 triliun.
Tren ini terjadi seiring dengan melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi lebih dari 14% sepanjang Maret 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa meski IHSG melemah, pasar modal domestik masih menunjukkan ketahanan.
“Resiliensi dan likuiditas di pasar modal domestik secara keseluruhan tetap dapat dijaga dengan baik,” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK, Senin (6/4/2026).
IHSG pada akhir Maret tercatat ditutup di level 7.048,22 atau terkoreksi sebesar 14,42% month-to-month.
Hasan menjelaskan bahwa lonjakan tren net foreign sell terjadi akibat transaksi di pasar negosiasi terhadap sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) juga terkoreksi 2,03% ke level 433,16. “Ini tercatat terkoreksi sebesar 2,03% month-to-month atau 1,74% year to date,” jelas Hasan.
Sementara itu, untuk Surat Berharga Negara (SBN), OJK mencatat aksi jual bersih investor non-resident hingga Rp 21,80 triliun secara bulanan.
Hasan menambahkan, aksi ini terjadi akibat meningkatnya ketidakpastian global yang memicu persepsi risiko lebih tinggi.
“Seiring peningkatan persepsi risiko akibat terjadinya ketidakpastian global, investor non-resident membukukan net sale di pasar SBN sebesar Rp 21,80 triliun month-to-month,” pungkasnya.
Meski investor asing melakukan aksi jual besar-besaran, OJK menilai likuiditas pasar tetap terjaga.
Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih memiliki daya tahan menghadapi dinamika global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi ekonomi internasional. (*)



















