TOPMEDIA – Konflik bersenjata yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah antara Iran dan Israel-Amerika Serikat tidak hanya mengguncang pasar minyak dunia, tetapi juga berdampak langsung pada harga komponen plastik di Indonesia.
Harga minyak Brent sempat menembus lebih dari USD 100 per barel, sementara jalur logistik internasional melalui Selat Hormuz mengalami hambatan.
Kondisi ini memicu lonjakan harga bahan baku plastik, salah satunya polypropylene, yang naik hingga 250% sejak awal tahun.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Ibrahim, menjelaskan bahwa Selat Hormuz menopang 70% distribusi minyak dunia, dengan 20% pasokan berasal dari negara-negara Teluk.
Ia menekankan bahwa minyak mentah tidak hanya menghasilkan bahan bakar, tetapi juga produk turunan penting seperti amonia, yang menjadi bahan dasar pupuk dan plastik.
“Untuk membuat pupuk urea, 70% bahan bakunya adalah gas. Sehingga ada potensi risiko produk urea, amonia, dan turunannya seperti plastik akan terganggu,” paparnya.
Ibrahim menambahkan bahwa BI akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan ketersediaan bahan baku plastik dengan harga yang tidak terlalu membebani industri maupun UMKM.
“Kita harus komunikasi terkait pembagian bahan baku plastik agar tetap mendukung UMKM. Produk plastik yang banyak dibutuhkan UMKM harus kita pastikan aman,” tegasnya.
Sementara itu, pedagang plastik di Surabaya mulai merasakan dampak langsung.
Mimin (65), supplier di Pasar Pucang Anom, mengaku harga plastik melonjak sejak Idulfitri 2026.
“Dari Rp9.000 tiba-tiba naik jadi Rp15.000, semua jenis plastik naik hampir 40%,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga ini membuat pedagang kesulitan menambah modal dan khawatir harga kebutuhan pokok ikut terdongkrak.
Pedagang lain, Maksum (48), menyebut lonjakan harga plastik kali ini sebagai yang terparah sepanjang ia berdagang.
“Tahun ini naiknya sudah ugal-ugalan, ada yang naik Rp5.000, Rp7.000, bahkan Rp15.000. Modal kulak harus ditambah, tapi omzet tipis,” ungkapnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik global tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. (*)

















