TOPMEDIA – Indonesia dan Jepang menyepakati kerja sama di sektor mineral kritis dan energi nuklir melalui penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC). Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di sela forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Minggu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk memperkuat sistem energi yang lebih terhubung sekaligus berkelanjutan di masa depan.
Menurut Bahlil, Indonesia membuka peluang luas bagi Jepang untuk terlibat dalam pengelolaan mineral kritis. Hal ini didukung oleh besarnya potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia, termasuk cadangan nikel terbesar di dunia serta komoditas lain seperti bauksit, timah, tembaga, dan logam tanah jarang.
“Kami sangat terbuka, kami dengan senang hati meminta kepada pemerintah Jepang maupun teman-teman pengusaha Jepang untuk bisa mengelola bersama-sama mineral kritis kami yang ada di Indonesia,” ujar Bahlil.
Sementara itu, Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa menilai kerja sama antarnegara menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian global. Ia menekankan bahwa kolaborasi dibutuhkan untuk menjaga ketahanan energi sekaligus memastikan pasokan energi tetap berkelanjutan.
“Di tengah situasi krisis global saat ini, penting bagi kita untuk memperkuat kerja sama demi menjaga ketahanan energi. Jepang sendiri telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi,” kata Akazawa.
Ia juga menegaskan Jepang siap melanjutkan dukungan terhadap berbagai proyek energi bersama Indonesia. Salah satunya adalah penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka yang menjadi bagian dari kemitraan strategis kedua negara.
Kementerian ESDM menyebutkan bahwa kolaborasi di sektor mineral kritis akan difokuskan pada penguatan rantai pasok global agar lebih aman dan stabil. Sementara itu, kerja sama energi nuklir diarahkan pada pengembangan teknologi energi rendah karbon dengan standar keselamatan tinggi.
Ke depan, Indonesia dan Jepang juga akan melanjutkan pembahasan terkait penguatan ketahanan energi kawasan. Topik yang dibicarakan mencakup kerja sama rantai pasok liquefied natural gas (LNG), batu bara, serta percepatan berbagai proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC), termasuk operasional PLTP Sarulla dan penyelesaian proyek PLTSa Legok Nangka.
Melalui kemitraan ini, kedua negara berharap dapat memperkuat ketahanan energi di kawasan sekaligus mendorong upaya pengurangan emisi karbon di wilayah Indo-Pasifik. (*)



















