Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Gara-Gara Lonjakan Harga Avtur Akibat Konflik Timur Tengah, Industri Logistik Indonesia Terancam

×

Gara-Gara Lonjakan Harga Avtur Akibat Konflik Timur Tengah, Industri Logistik Indonesia Terancam

Sebarkan artikel ini
Pesawat di bandara. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Perekonomian global memang cukup terdampak dan terguncang akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Gangguan pada rantai pasok energi membuat harga bahan bakar penerbangan atau avtur melonjak tajam, sehingga memicu ketidakpastian di sektor transportasi dan logistik, termasuk di Indonesia.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja, mengonfirmasi bahwa kenaikan harga avtur sudah diprediksi sejak awal.

HALAL BERKAH

Menurutnya, harga avtur domestik naik rata-rata hingga 70 persen, sementara untuk rute internasional meningkat hingga 80 persen sepanjang April 2026.

“Seperti sudah kita perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2026).

Baca Juga:  Krisis Global Memanas, Filipina Resmi Berlakukan Darurat Energi

Sementara itu, Pengamat transportasi dan logistik sekaligus pengajar di Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno, menilai kenaikan harga avtur akan berdampak langsung pada biaya distribusi barang.

Ia menjelaskan bahwa jalur udara masih menjadi andalan distribusi di Indonesia yang berciri kepulauan, mulai dari paket e-commerce, dokumen, barang berat, hingga kebutuhan logistik lainnya.

“Kenaikan harga avtur pada tahap awal pasti berdampak pada biaya logistik. Hal ini akan menyebabkan shock di berbagai industri yang bergantung pada pengiriman udara,” tutur Djoko.

Ia menambahkan bahwa tekanan biaya akan mendorong pelaku industri melakukan penyesuaian agar operasional tetap berkelanjutan.

Bentuk penyesuaian tersebut bisa berupa kenaikan harga barang, biaya kirim, hingga penyesuaian layanan.

Baca Juga:  Cyber Greed, Hancurnya Bisnis Keluarga di Era Digital (6): Antara Nama Baik dan Darah Sendiri

Jika tidak diantisipasi, hal ini dapat menekan daya beli konsumen dan memperlambat pertumbuhan e-commerce yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi digital nasional.

Djoko menekankan bahwa meski kenaikan harga bahan bakar bukan hal baru, pemerintah, pelaku usaha logistik, dan asosiasi industri perlu duduk bersama untuk mengkaji sejauh mana dampak kenaikan avtur terhadap biaya distribusi.

“Masih ada ruang untuk berdiskusi agar kenaikan harga tidak menimbulkan gejolak besar di sektor logistik,” ujarnya. (*)

TEMANISHA.COM