KAMI menandatanganinya di pagi yang sunyi. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada rasa lega yang berlebihan. Hanya keheningan yang terasa berat, seperti setelah hujan panjang yang akhirnya berhenti.
Family constitution itu kini resmi tersusun rapi, ditandatangani, dan disepakati.
Papa memegang pena sedikit lebih lama dari kami semua. Tangannya bergetar halus saat membubuhkan tanda tangan terakhir. “Papa pikir dokumen ini akan memecah keluarga,” ucapnya pelan. “Ternyata yang hampir memecah kita justru adalah ketiadaannya.”
Semua yang ada di ruangan tak satu pun yang menjawab, karena kami semua tahu itu bahwa itu benar.
Beberapa bulan setelah penandatanganan itu, bisnis mulai menemukan kembali pijakannya.
Keputusan tidak lagi ditunda karena kebingungan. Manajer profesional kembali percaya diri. Mitra berhenti bertanya siapa yang berhak bicara. Bukan karena konflik yang hilang, tapi karena ada mekanisme untuk menanganinya.
Hubungan kami memang tidak langsung membaik. Ada jarak yang masih perlu waktu. Tapi setidaknya, jarak itu tidak lagi dipenuhi kecurigaan.
Kami tahu batas. Kami tahu peran. Dan untuk pertama kalinya, kami tahu ke mana harus kembali ketika berbeda pendapat.
Suatu sore, aku duduk bersama Papa di ruang kerja lamanya. Ia menatap rak buku yang sama, namun kini lebih rapi.
“Kalau Papa boleh mengulang waktu,” katanya, “Papa akan buat dokumen ini jauh sebelum kalian siap memimpin perusahaan ini.”
Aku hanya tersenyum tipis. “Mungkin memang begini jalannya, Pa. Banyak keluarga baru sadar setelah hampir kehilangan.”
Papa mengangguk. Tidak ada penyesalan yang diucapkan, hanya penerimaan.
Aku menyadari satu hal penting dari semua yang kami lalui bahwa family constitution bukan tentang siapa yang paling berkuasa. Ia tentang menjaga agar kekuasaan tidak merusak hubungan.
Ia bukan alat untuk menang, melainkan pagar agar konflik tidak berubah menjadi kehancuran.
Dokumen itu memang sering terlambat dibuat. Bukan karena keluarga tidak peduli, tetapi karena mereka terlalu percaya bahwa kedekatan emosional cukup untuk menahan kepentingan yang berbeda.
Padahal ketika bisnis sudah bertumbuh, kepentingan pun ikut berkembang dan cinta saja tidak selalu cukup untuk menampungnya.
Kini, setiap kali melihat dokumen itu tersimpan di brankas perusahaan, aku tidak melihatnya sebagai simbol kegagalan masa lalu.
Aku melihatnya sebagai pengingat bahwa keluarga yang ingin bertahan dalam bisnis harus berani menyepakati aturan sebelum konflik datang.
Karena dalam bisnis keluarga, yang paling berbahaya bukan perbedaan pendapat melainkan ketiadaan kesepakatan.
Dan itulah pelajaran yang kami bayar mahal agar tidak perlu dibayar oleh generasi berikutnya. (*/Habis)



















