Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
FAMILY BUSINESSES

Family Constitution: The Missing Rules (6): Ketika Bisnis Mulai Membayar Harga

×

Family Constitution: The Missing Rules (6): Ketika Bisnis Mulai Membayar Harga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi family business story. (Foto: AI generated by Chat GPT)
toplegal

MASALAH itu akhirnya keluar dari ruang rapat dan masuk ke laporan keuangan. Angka-angka yang dulu stabil mulai menunjukkan kegelisahan. Proyek tertunda. Mitra menunda keputusan. Beberapa klien lama mulai meminta kepastian bukan soal harga, tapi soal siapa sebenarnya yang memimpin.

Aku duduk bersama Brino di ruang keuangan sore itu. Ia menatap layar dengan rahang mengeras.

HALAL BERKAH

“Kalau begini terus,” katanya pelan, “kita bukan hanya kehilangan kendali. Kita akan kehilangan kepercayaan pasar.”

Bram masih bersikeras dengan caranya. Ia menganggap semua ini hanya fase.

“Bisnis tidak akan runtuh hanya karena kita belum sepakat soal aturan,” katanya di rapat berikutnya.

Tapi, bisnis tidak bekerja dengan asumsi. Ia bekerja dengan kepastian.

Baca Juga:  Drama Tes DNA Hancurkan Bisnis Keluarga (4): Hasil yang Menentukan

Papa akhirnya memanggil kami semua ke rumah. Tidak ada agenda resmi, tidak ada notulen. Hanya meja makan panjang yang kini terasa terlalu besar.

“Kalian lihat sendiri akibatnya,” kata Papa lirih. “Perusahaan mulai membayar harga dari ketidakjelasan kita.”

Mama menunduk, jemarinya saling menggenggam. Tidak ada air mata, hanya kelelahan.

Aku membuka suara. “Family constitution bukan lagi soal idealisme. Ini soal penyelamatan.”

Bram terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah.

Sedangkan Brino mengangguk pelan. Tidak ada kemenangan di wajah siapa pun.

Beberapa hari kemudian, konsultan bisnis keluarga kembali dipanggil. Kali ini suasananya berbeda. Tidak ada lagi adu argumen panjang.

Semua bicara lebih singkat dan lebih hati-hati. Bukan karena sudah sepakat sepenuhnya, tapi karena realitas sudah mengetuk terlalu keras untuk diabaikan.

Baca Juga:  Keserakahan Kakak Hancurkan Bisnis Keluarga 30 Tahun (6): Rahasia Masa Lalu yang Terbongkar

“Dokumen ini tidak akan menyelesaikan semua luka,” kata konsultan itu. “Tapi tanpa ini, luka akan terus terbuka.”

Aku menatap draf family constitution yang kini dipenuhi catatan revisi. Di dalamnya ada hal-hal yang dulu kami hindari, seperti kriteria kepemimpinan, mekanisme keputusan, dan cara keluar dari bisnis keluarga tanpa menghancurkan hubungan. Semua terasa berat, tapi perlu.

Di luar gedung kantor, aku berhenti sejenak memandang logo perusahaan. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya bukan sebagai simbol kebanggaan melainkan sebagai tanggung jawab besar.

Ada ratusan orang yang bergantung pada keputusan kami, dan mereka tidak punya pilihan untuk menunggu kami berdamai.

Aku menyadari satu hal yang pahit tapi jujur bahwa bisnis keluarga tidak runtuh karena konflik. Ia runtuh karena konflik yang dibiarkan tanpa aturan.

Baca Juga:  Drama Tes DNA Hancurkan Bisnis Keluarga (3): Menanti Hasil Tes DNA

Dan, jika kami masih ingin menyelamatkan apa yang sudah dibangun maka tidak ada lagi ruang untuk menunda. (*/bersambung)

TEMANISHA.COM