Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
FAMILY BUSINESSES

Family Constitution: The Missing Rules (5): Terlambat Menyepakati Aturan

×

Family Constitution: The Missing Rules (5): Terlambat Menyepakati Aturan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi family business constitution. (Foto: AI generated by Chat GPT)
toplegal

GAGASAN itu akhirnya muncul di tengah ketegangan rapat yang belum reda. Bukan sebagai kesepakatan, melainkan sebagai usulan yang terdengar canggung.

“Kita mungkin perlu menyusun family constitution,” kataku pelan di akhir rapat.

HALAL BERKAH

Ruangan hening beberapa detik. Bram menyandarkan tubuhnya ke kursi. Brino menatap meja sementara Papa menutup matanya sejenak. Tidak ada yang menolak, tapi tidak ada pula yang langsung setuju.

“Kenapa baru sekarang?” tanya Bram, akhirnya.

“Karena sekarang kita mulai saling tidak percaya,” jawabku jujur.

Kalimat itu menggantung di udara. Tidak ada yang tersinggung, tapi semua tahu ideku itu benar.

Kami sepakat memanggil konsultan bisnis keluarga. Pertemuan pertama berlangsung kaku. Konsultan itu berbicara tentang nilai bersama, batas peran, mekanisme keputusan, dan suksesi. Semua terdengar logis, bahkan terlalu logis untuk keluarga yang sudah lama berjalan tanpa aturan.

Baca Juga:  Arisan Branded yang Menghancurkan Bisnis Keluarga (7-Habis): Hikmah dari Keruntuhan

“Kalau dokumen ini dibuat sepuluh tahun lalu,” katanya hati-hati, “banyak ketegangan hari ini yang bisa dihindari.”

Aku menunduk. Papa memijat pelipisnya. Bram terlihat tidak sabar.

Diskusi tentang nilai berubah menjadi perdebatan tentang masa lalu. Siapa paling berjasa. Siapa paling lama bertahan. Siapa paling sering mengalah. Setiap poin yang seharusnya netral justru membuka luka lama.

Family constitution bukan alat untuk menang,” kata konsultan itu, mencoba menenangkan.

“Tapi semua orang di sini ingin memastikan tidak kalah,” Bram menyela.

Di situlah aku sadar bahwa menyusun aturan ketika emosi sudah terlanjur panas adalah pekerjaan yang nyaris mustahil. Dokumen yang seharusnya menjadi pelindung malah terasa seperti arena pembuktian.

Baca Juga:  Family Constitution: The Missing Rules (4): Siapa yang Akan Memimpin

Papa akhirnya bicara. Suaranya pelan tapi tegas. “Papa ingin ini selesai. Papa tidak mau perusahaan hancur karena kita.”

Brino mengangguk. “Aku setuju, tapi aku tidak mau aturan ini merugikan pihak tertentu.”

Aku menatap mereka. “Aturan memang tidak pernah dibuat untuk menyenangkan semua orang. Ia dibuat untuk melindungi keberlanjutan.”

Pertemuan berakhir tanpa kesepakatan final. Ada draf, ada catatan, tapi belum ada komitmen. Di lorong kantor, aku melihat Papa berjalan lebih lambat dari biasanya. Beban yang ia pikul bukan lagi bisnis, tapi keluarga.

Malam itu aku duduk sendirian sambil membaca kembali draf family constitution. Kata-katanya rapi, sistematis, dan masuk akal. Tapi aku tahu, dokumen ini tidak akan bekerja tanpa satu hal yang kini mulai langka, yakni kepercayaan.

Baca Juga:  Cyber Greed, Hancurnya Bisnis Keluarga di Era Digital (6): Antara Nama Baik dan Darah Sendiri

Dan di situlah kenyataan pahitnya bahwa family constitution memang sering terlambat dibuat. Bukan karena tidak penting, tetapi karena keluarga baru mencarinya saat masalah sudah terlalu dekat. (*)

TEMANISHA.COM