PERTANYAAN itu akhirnya muncul, meski tidak pernah diucapkan secara terang. Ia hadir dalam jeda-jeda rapat, dalam tatapan yang saling mengukur, dalam keputusan yang sengaja ditunda.
Papa semakin jarang memimpin rapat. Bukan karena tidak mau, tapi karena tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Dan ketika kursi di ujung meja mulai sering kosong, kami semua sadar bahwa cepat atau lambat, seseorang harus duduk di sana.
Suatu sore, Bram berkata dengan nada santai tapi penuh makna. “Kita perlu satu orang yang pegang kendali penuh. Supaya tidak simpang siur.”
Brino menoleh tajam. “Dan siapa menurutmu orang itu?”
Tidak ada jawaban. Tapi keheningan itu berbicara banyak.
Aku menatap mereka bergantian. Tidak ada satu pun kesepakatan tentang siapa yang pantas memimpin. Siapa yang siap dan siapa yang hanya merasa berhak.
Selama ini kami mengira waktu akan menjawab. Padahal waktu justru memperbesar ketegangan.
Papa akhirnya bicara di meja makan pada malam itu. “Papa tidak pernah menunjuk penerus,” ucapnya pelan. “Papa kira kalian akan tahu sendiri.”
Bram menghela napas. “Tahu berdasarkan apa, Pa?”
Brino menimpali, “Tidak pernah ada ukuran yang jelas.”
Aku mendengarkan, dan untuk pertama kalinya aku merasa takut. Bukan pada konflik itu, tapi pada fakta bahwa kami tidak punya pegangan apa pun. Tidak ada prinsip tertulis. Tidak ada peta suksesi. Tidak ada kesepakatan tentang bagaimana kepemimpinan seharusnya berpindah.
Di kantor, dampaknya mulai terasa. Manajer profesional ragu mengambil inisiatif. Keputusan besar menunggu restu yang tidak pernah jelas datang dari siapa. Bisnis melambat bukan karena pasar, tapi karena ketidakpastian di pucuk pimpinan.
Mama menarikku ke samping suatu malam. “Apa tidak sebaiknya kalian bicara baik-baik?”
Aku tersenyum pahit. “Bicara baik-baik tanpa aturan hanya akan jadi perdebatan panjang, Ma.”
Aku kembali membuka catatan tentang family constitution. Tentang bagaimana keluarga bisnis menetapkan nilai kepemimpinan, kriteria penerus, dan mekanisme transisi sebelum krisis datang. Semua terasa masuk akal dan terasa menyakitkan karena kami melewatkannya.
Hari itu aku berdiri di depan ruang rapat yang kosong. Kursi-kursi tersusun rapi, tapi tidak ada arah. Aku menyadari satu hal yang pahit bahwa ketika kepemimpinan tidak disiapkan, setiap orang akan merasa berhak memimpin. Di situlah konflik paling berbahaya bermula. (*/bersambung)



















