Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
FAMILY BUSINESSES

Family Constitution: The Missing Rules (2): Ketika Aturan Tidak Pernah Disepakati

×

Family Constitution: The Missing Rules (2): Ketika Aturan Tidak Pernah Disepakati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi family business story. (Foto: AI generated by Chat GPT)
toplegal

PAPA sudah kembali ke kantor, tapi tidak seperti dulu. Ia lebih sering duduk, mendengarkan, dan membiarkan kami berbicara.

Namun, justru di situlah masalah mulai terlihat jelas. Ketika satu suara tidak lagi dominan, suara-suara lain berlomba mengisi ruang yang kosong.

HALAL BERKAH

Rapat direksi berubah menjadi perdebatan kecil yang tidak pernah benar-benar selesai.

Bram selalu merasa berhak memutuskan karena ia paling lama terlibat di operasional. Brino berpegang pada angka dan laporan keuangan. Keduanya merasa benar, namun keduanya tidak sepenuhnya salah.

Aku mencoba menengahi. “Kita perlu satu mekanisme yang disepakati. Bukan siapa yang paling keras.”

Bram menatapku tajam. “Sejak kapan kita perlu mekanisme segala? Dulu Papa juga memutuskan sendiri.”

Baca Juga:  Drama Tes DNA Hancurkan Bisnis Keluarga (5): Luka yang Lebih Dalam

Kalimat itu membuat ruangan sunyi. “Dulu”. Kata itu kembali muncul. Semua yang kami anggap wajar ternyata hanya berjalan karena satu figur sentral yang kini tidak lagi sepenuhnya memegang kendali.

Di rumah, Mama mulai resah. “Mama tidak suka suasana seperti ini,” katanya pelan. “Kalian jadi sering bertengkar.”

Aku ingin menjawab bahwa ini bukan pertengkaran, melainkan akibat dari kekosongan aturan. Tapi aku tahu, bagi Mama, konflik tetaplah konflik.

Suatu sore, aku menemukan Papa duduk sendirian di ruang kerja lama. Ia memandangi rak buku yang berdebu.

“Kalian bingung karena Papa tidak pernah menuliskan apa pun,” katanya tanpa menoleh. “Papa pikir, selama Papa ada, semuanya aman.”

Baca Juga:  Keserakahan Kakak Hancurkan Bisnis Keluarga 30 Tahun (5): Serangan Balik Sang Kakak

Aku duduk di seberangnya. “Pa, justru karena Papa ada, kita tidak pernah belajar menyepakati aturan.”

Papa tersenyum lemah. Tidak membantah.

Hari-hari berikutnya, konflik kecil mulai berdampak nyata. Keputusan tertunda. Tim bingung harus mengikuti arahan siapa.

Beberapa manajer profesional mulai mempertanyakan struktur kepemimpinan. Kepercayaan yang dulu dibangun pelan-pelan mulai retak. Bukan karena niat buruk, tapi karena ketidakjelasan.

Aku kembali membuka catatan tentang family constitution. Tentang nilai bersama, peran, batas, dan cara menyelesaikan konflik tanpa merusak hubungan.

Semua terdengar ideal, hampir utopis. Tapi semakin aku membaca, semakin aku sadar bahwa tanpa dokumen itu, kami hanya mengandalkan ingatan dan asumsi masing-masing.

Malam itu, di meja makan, aku berkata pelan, “Kita butuh kesepakatan tertulis. Bukan untuk saling mengikat, tapi untuk saling melindungi.”

Baca Juga:  Family Constitution: The Missing Rules (4): Siapa yang Akan Memimpin

Bram tertawa kecil. “Kita ini keluarga, bukan perusahaan multinasional.”

Aku menatapnya lama. “Justru karena kita keluarga, kita perlu batas,” tandasku tegas.

Tidak ada yang menjawab. Tapi aku tahu, benih ketegangan itu sudah tumbuh. Dan tanpa arah yang jelas, ia akan terus membesar. (*/bersambung)

TEMANISHA.COM